Sunday, March 01, 2009

Sex dengan Tetangga

Aku seorang pemuda yangbaru menginjak usia 16 tahun, dan untuk menambah uang sakuku, aku bekerja sebagai pencucu mobil tetangga.
Kendaraan kesukaanku adalah mobil tetangga Leslie.
Pertama dia memiliki kendaraan audi yang cantik dan kedua pemilik kendaraan tersebut memiliki tubuh yang sangat seksi! hahaha..

Bagiku yang masih bau kencur ini, pemilik mobil tersebut yang jauh lebih tua dariku (usia 20 tahun) tetap memiliki aura gadis muda yang erotis walaupun kini ia hidup terpisah dengan suaminya karena kasus selingkuhan sang suami dengan salah satu pegawai admin di kantor tersebut.

Aku telah menyelesaikan tugasku (mencuci mobilnya) dan segera menekan bel pintu rumahnya untuk memberitahukan bahwa tugasku telah selesai.

Aku mendengar suara dari dalam, “Masuklah”.

Aku membuka pintu dan segera masuk.
Leslie segera turun dari anak tangga dengan mengunakan handuk mandinya.
Handuk tersebut sangat kecil sehingga sedikit saja keatas maka bagian kemaluannya akan terlihat jelas.

“Ma’af”, jawabku malu melihat kondisi demikian. “Rasanya anda memperkenankan saya masuk”

“Tidak, saya tadi bilang saya akan segera datang.” Dia menjelaskan. “Tapi, sudahlah tidak apa.”

“Mobilnya telah siap.” Balasku kembali.

“Berapa, $5 nggak masalah?” Dia bertanya.

“Tidak apa.” balasku kembali.

Mbak Leslie melihat disekeliling ruang tamu dan mengambil tasnya yang berada di sofa kursi.

Ia mencoba meraih tas tersebut sambil menahan handuknya. Satu tangan menahan handuk, tangan lainnya berusaha membuka tasnya.
Karena tas tersebut agak sulit dibuka dengan satu tangan, ia berusaha dengan cepat melepaskan tangan satunya untuk membantu membuka tas tersebut. Sedangkan handuk tersebut hanya sedikit terkunci melipat.
Dia berusaha mengatur posisinya agar aman bagi handuknya…tetapi handuk itu malah slip dan mencoba melorot.
Gerakan refleksi tangannya terlambat untuk menahan handuk yang terlepas tersebut.

Aku melihat sebuah pemandangan payudara yang sangat mengasyikan dan mengagumkan!
Aku menelan air ludah.!

Setelah dibenahi kembali posisi handuk tersebut, ia mengeluarkan sejumlah uang dari tasnya dan itu cuma $3.

“Hmmm…sepertinya kurang”, gumamnya…
kemudian ia kembali membuka tasnya dan berusaha menekan handuknya dengan kedua sisi lengan tangannya.

Dlm pencarian sisa $2 tsb, handuk tersebut terlepas kembali dan kali ini ia membiarkan saja.

Oh…my….god..payudara begitu kencang, bulu vagina yang begitu halus dan rapi serta pinggul dan pantat yang sangat mengembang!
Perfect body!!!!

“Ia bergumam datar tanpa menoleh kepadaku; kupikir kamu tidak masalah dengan segitu saja?”. Dan terus fokus untuk mencari sisa uang dalam tasnya

“Tidak.” balasku.

“Baiklah, kalau begitu.Aku akan memberikan sisanya esok saja.” Ia membalas cepat.

“Bukan, bukan itu maksudku (masalah sisa uang tsb),” balasku sambil melotot memandang tubuhnya. “Saya belum pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya, maksudku.”

“Benarkah?” Dia bertanya kalem.

“Ya…hanya di buku dan tv.” balasku.

“Jadi bagaimana menurutmu?” Dia bertanya sambil mendekat.

“Anda begitu cantik sekali.” kataku sedikit gemetar.

“Terima kasih.” Dia membalas sambil berada tepat sejengkal dihadapanku. Aku dapat merasakan panas dari tubuhnya.

Leslie kemudia menarik tanganku dan menempelkannya diatas payudaranya, lembut…kejal….dan celanaku menjadi tidak karuan bentuknya. AKu merasa tidak nyaman dengan posisi penis didalam celanaku.

Leslie meraih ikat pingangku dan membuka kancing jeans ku. Dan melorotkannya!

Penisku mengembang didalam celana dalamku dan mengarah kesamping.

Kemudian ia meraih penisku dari dalam celana dalamku. Saat yang kunanti telah tiba.

“Kamu sudah besar ya…”jawabnya pada penisku sambil tersenyum. “Biar aku yang mengurusmu!.” katanya nakal pada penisku sambil menyentil kemaluanku.

Aku hanya diam seribu bahasa. Ia menarikku untuk tidur dilantai.
Kemudian ia menindihku.

“Aku yakin ini tidak akan lama.” katanya mengoda sambil mengerayangi tubuhku hingga menuju batang penisku.

“Ee…” hanya itu yang bisa aku ucapkan.

Aku merasa ia mencium penisku dan kemudian ada terasa hangat pada saat penisku berada dalam mulutnya.
Tak terbayangkan rasa itu, dia berhenti sejenak dan kemudian melahap penisku sangat dalam hingga aku merasa menyenggol kerongkongannya.

Dia benar! Karena ini merupakan pengalaman pertama bagiku, aku tidak kuasa menahan semua tekanan darah dalam penisku.
Penisku mulai mengencang hebat dan rasanya dengan hisapan demikian aku sudah tidak sanggup lagi untuk mencegah spermaku keluar.

Penisku menyemprot sperma dalam mulutnya!.
Mbak Leslie tidak juga melepas lumatan penisku, ibarat bayi yang sedang menyusui…ia menghisap semua spermaku dan menjilat semua sperma yang masih membekas di penisku.

“Bagaimana rasanya…sayang?” Dia bertanya.

“Wowwww, enak sekali mbak.” balasku.

Ia kemudian berbaring disampingku. Aku berbalik dan segera menindihnya.
Aku meremas dan mengelus semua bagian tubuhnya.

Aku bergerak kearah mulutnya dan segera melumat bibir mungil itu. Kamipun saling fiting lidah.
Aku mencoba meraih bagian vagina dengan tanganku dan segera menarik dan mengesek itil dari mbak leslie.

“Kalem dong sayang.” mbak leslie segera meraih tanganku dan membimbingnya untuk mengosok bibir dan clitorisnya dengan perlahan.

KAmi terus melanjutkan ciuman kami, kemudian ia menekan kepalaku kebawah menuju arah vaginanya.
Aku tahu ia ingin aku melumat vaginanya.
Kulihat vagina itu sudah mulai basah dan aku mencoba menusuknya dengan jariku. Tetapi mbak leslie masih dalam kontrol yang baik, ia meraih tangaku untuk mengesek bagian luarnya lebih dahulu.
Kulihat itil nya turun naik merasakan birahi yang sudah mulai naik pada wanita ini.

Kemudian ia memegang jariku untuk masuk dalam vaginanya.

Jarikupun masuk sedalamnya dalam vagina mbak leslie. Tak lama kemudian kedua paha mbak leslie merapat dan menjepit jariku.

Kurasakan gerakan ‘kembang kempis dan panas’ dalam vagina tersebut.
Sepertinya vagina tersebut lagi berusaha ‘mengemut’ jariku!.

Aku hanya bisa menatap tubuh dan wajahnya yang cantik. Rambutnya yang terurai berantakkan menambah kekagumanku atas tubuh wanita ini.

“Apakah kamu berfikir ini sudah nikmat?” Dia bertanya mendadak.

“Ya.” balasku.

“Ohhh…belum sayang.” balasnya kemudian.

Dia melepaskan jariku dalam vaginanya dan mandorongku untuk tidur dilantai. Kemudian dengan cekatan ia sudah berada diatasku.
Ia meraih penisku dan mengarahkan dalam vaginanya.

Dia benar, saat penisku mulai sedikit demi sedikit memasuki vaginanya, pikiranku kosong dan menerawang entah kemana.
Hingga vagian itu menelan semuanya dan menyentuh buah zakarku….aku seperti terbang tinggi.

Kemudian ia melipatkan kakinya dan layaknya seorang joki, ia mengangkat cukup tinggi pantatnya dan menghujamkan dengan keras pada penisku….wooooowwwww…..that’s really fucked!!!!

Dan mulailah irama tungangan kuda yang cukup kencang dilakukan mbak leslie.
Penisku dipelintir kesana kemari. Kiri-kanan, maju-mundur….

Sepertinya ia ingin mematahkan batang penisku !

“Ini nikmat sekali tante…!.” kataku menjerit.

“Aku membutuhkan itu.” Dia membalas sambil terengah-engah. “3 bulan kesendirianku akan kubalas padamu!” Katanya geram sambil menghempaskan vaginanya pada penisku!

Sepertinya mbak leslie menumpahkan semua birahi terpendam akibat kejengkelan dengan sang suami.

Ini bagaimana cara ia mengenjot penisku dengan ‘kasar’.

“Bisakah kau rasakan ini?” balasnya sambil mengigit bibirnya sendiri dan membengkokkan penisku kedepan.

Aku merasa penisku ditarik dan dikait vagina mbak leslie kesana kemari.

Rasanya sedikit keras dan sakit…tapi tetap kurasakan rasa nikmat yang liar dari style seperti ini….

“Bagaimana dengan ini?” sambil ia memaksa memasukkan sedalam-dalamnya penisku dalam vaginanya.
Mimiknya sedikit geram pada tubuhku, dan rasanya ia ingin menelan buah zakarku….liar sekali…

Tak ada genjotan yang halus!…..Semua sentakan dan benturan mengunakan tenaga kuda!

Tak ada yang dikurangi…’Bagaimana dengan ini…hah?!” sahutnya geram sambil menghujamkan vaginanya dalam penisku dan digoyangnya pinggulnya sehingga membuat batang penisku seperti melintir….

Liar sekali….!..ia seperti kerasukan setan!…

Aku merasakan spermaku sudah akan keluar kembali…”Mbak aku sudah tidak kuat..” balasku memberitahunya….

“Tak apa sayang…keluarkan saja apa yang kamu punya..” jawabnya sambil terengah-engah.

“Didalam?”, balasku lagi…

“He…eh…” balasnya sambil menghujam penisku bertubi-tubi….

Ia menunduk dan mengigit putingku….”auwwww…” teriaku sedikit menjerit…

“Pelan2 mbak..”, pintaku…

Mbak leslie tidak perduli sambil terus mengigit putingku kiri dan kanan, ia memutar pantatnya seperti gilingan!

Aku sudah tidak kuat…Mbak aku sudah hampir mau keluar…!

“Sabar sayang, mbak juga….kita barengan..” pintanya.

Dan akhirnya ia berkata, “kamu siap?”, sambil terus memompa penisku dengan irama yang sungguh cepat!

“Yaaaa…”,balasku.

Dan karena tak kuasa lagi, kusemprotkan spermaku dalam vagina itu, serrr…serrr…serrr…
3x kali kusemprotkan spermaku dalam vagina mbak leslie dan rasanya nikmattttttttttt sekaliiiiii.
Sepertinya “kedutan” vagina itu siap2 untuk hal yang sama…
Dan tak lama kemudian segera ia bangkit mengangkangiku dan menyuruhku untuk menyodok semua jariku dalam vaginanya….

Lima jariku-pun kumasukkan dalam vagina tersebut…dan kusodokkan keluar masuk….

“Aku sudah mau keluarrrr….” jawab mabak leslie berteriak panjang.

Dan benarlah…jemariku semakin merasakan “jepitan kedut-kedut’ dalam vagina itu…

Kemudian tiba2 ia menarik dan mengeluarkan tanganku…dan memberikan vaginanya ke arah mukaku…

“Masukkan lidahmu sayang….masukkan!”, perintahnya sedikit memaksa!

“Owww…geli bercampur ngeri…”, bathinku…

Vagina itu nampak becek sekali akibat spermaku!

Mbak leslie segera menjambak rambutku dan menyodorkan mukaku secara rapat ke vagina nya…

“Masukkan sayang lidahmu…dan mainkan!”, katanya memohon sambil memaksa.

Aku memasukkan semua lidahku dalam vagina itu dan mengerakkannya seperti ular dalam gua…

Ia menuntaskan dengan mengeluarkan sperma nya dalam kurun waktu yang cukup lama pada lidahku dan sperma itu mengalir masuk dalam mulutku…Ia berteriak keras, “ouwwwwww….yess….yessss..”, entah berapa kali semprotan halus spermanya menyentuh lidahku.

“Suck me babe…suck me”, katanya sambil menjambak rambutku.

Rasanya lama sekali ia mengeluarkan pejuh nya….

“Rasakan itu…boy…rasakan!”, cerocosnya ngawur dan geram..

Ia benar2 menumpahkan semua orgasmenya pada mulutku!

“Ooohh…yeah…that’s right….”, katanya sedikit mengakhiri orgasme tersebut.

Aku tidak bisa berbuat apa2…jambakannya begitu keras dan dengan kepalaku yang sedikit mengangkat, maka sperma campuran itu tertelan olehku…

Asin…anyir…dan aku rasanya mau muntah….

“Oooohhhh….yesss…”, jawabnya lega sambil belum melepaskan jambakan tanganya pada rambutku.

Seolah ia ingin aku menghabisi semua sperma yang ada pada vagina tersebut..
Aku sudah tidak tahan dan segera aku berontak….karena aku tersedak hebat dan mau muntah jika dipaksakan terus….

Akupun melompat dan segera kuhempaskan kesamping tubuh mbak leslie…

Aku terbatuk dan tersedak…Ku keluarkan sisa sperma yang masih ada dalam mulutku…

Mbak leslie hanya memandangku dengan tertawa kecil dan puas…

“Bagaimana sayang..?”, jawabnya lemas sambil tersenyum

“Luar biasa mbak..”, jawabku sekenanya setelah kondisiku sudah mulai tenang.

“Kalau ada waktu, kita lakukan ini kembali ya say…”, balasnya meminta.

“Ya…kita lihat nanti gimana keadaanya..”, balasku capek.

“Benarkah?” balasnya.

“Ya”, jawabku enteng.

Akhirnya kami sudahi permainan tersebut, dan uang $5 tidak jadi kuambil…

Rasanya pengalaman ini jauh lebih berharga.

Akhirnya kami melakukan kembali pada waktu tertentu, hingga akhirnya ia memutuskan pindah ke negara bagian karena kasus cerai dengan mantan suaminya telah selesai.

Selamat tinggal mbak leslie…kataku dalam hati menghantarkan kepergiannya.

===============================
Bonus film yang bisa didownload dan diputar “cewek baik-baik jadi liar”
Kalau ada masalah dalam menontonnya silahkan tanya pada komentar ini
cewek baik-baik jadi liar

Pecahnya Perawan Artis

Alexis Bledel sangat menawan saat memasuki sebuah taxi carteran regularnya, dia bersama seorang pemuda yang beberapa kalangan anggot wanita dari club tsb mengenalnya sebagai pria tampan dan macho berpenis besar.
cerita dewas
Sebenarnya Alexis telah sedikit mengenal pria tsb dari member club lainnya. Hanya itu dari mulut kemulut, dan ia tidak berminat untuk menyelidiki pria tersebut.

Dan sekarang ia berhasil mengajak pria tsb untuk berkencan dengannya. Namanya Jeff.

Ya aku adalah Jeff.
Bagi sebagian wanita yang berumur dari kalangan istri para pengusaha, wanita simpanan dan wanita eksekutif yang merupakan anggota klub “Gilmore Fantasy”, aku dikenal sebagai salah satu dari beberapa pria yang bisa dikatakan Gigolo yang banyak berkeliaran di klub tersebut dan memiliki referensi service yang memuaskan.

Sebenarnya ukuran penisku tidaklah terlalu besar.
Sebagian dari kami terutama yang berkulit hitam (africa-american) memiliki ukuran yang jauh lebih besar dan panjang dari milikku.
Tapi bagi sebagian wanita, itu relatif…

Kami duduk dibelakang sambil ia memandang lembut tanganku yg mengelus pahanya.
cerita porno
cerita dewasa - artis alexis
Alexis cukup agresif dengan tindakanku, dan malah menarik tangan ku keselangkangan pahanya hingga menyentuh celana dalamnya.

Alexis termasuk salah satu selebrities yang masih dibilang perawan. Kencan dengan mantan pacarnya hanya sebatas tubuh dan ciuman saja.

Dan ia mengingkan seks pertamanya pada pria yang “perfect” menurut pandangannya.
Well…mungkin aku bisa dibilang beruntung :)
cerita serucerita panascerita syurr
Aku tidak tinggal diam dgn aksi Alexis, kutarik celana itu sedikit turun sehingga aku merasakan bulu dan bibir halus dari vagina indah itu.
Sang supir yang sudah biasa melihat kelakuan sang artis langganannya (mungkin saja) tidak begitu perduli dengan keadaan kami di belakang.

Aku sibuk mempermainkan bibir vagina dan clitoris-nya sambil mencium bibir Alexis. Memberinya sedikit sentuhan rangsangan dengan menciumi leher dan pundak sang artis.

Alexis mencoba membalas aksi ku dengan membuka retsleting dan kancing celanaku dan segera merogoh penis ku.
Sebenarnya perjalanan dari club ke appartement Alexis tidak jauh…tapi sang sopir sepertinya sudah mengerti dengan kebiasaan sang artis, Jikalau ia tidak memerintahnya “langsung ke condomium”, dan langsung masuk kedalam mobil tanpa menyebutkan
alamat yang dituju, maka itu berarti sang artis ingin dibawa berkeliling kota atau mengitari center park kota lebih dahulu sebelum akhirnya memintanya untuk segera ke appartement-nya.

Udara kota memang terasa sangat dingin…tapi tidak didalam taxi tsb!
Alexis segera membasahi penis ku dari ujung pangkal penis hingga buah zakarku.
Tak ada yang luput dari air liurnya hingga akhirnya penisku ia telan dalam mulutnya dan menghisapnya.

Bibir Alexis memang tergolong sexy dan lentik. “Tipis tapi tajam dilihat”. Sungguh merupakan keinginan bagi setiap pria untuk merasakan bibir tsb.
Alexis malah berfikir kalau ia amat beruntung mendapatka pria seperti diriku yang sedikit memiliki famor “perkasa” dimata anggota wanita club tsb. Well…setidaknya ia ingin tahu sensasi apa yang diberikan dari “my big dick”.

Taxi itu berhenti menandakan telah sampai. Kami keluar dgn saling bergandeng tangan.
Kami lsg menuju elevator mewah dlm apartement tersebut dan segera menuju lantai 8. Kamarnya.

Waktu telah menunjukkan jam 1.00 malam dan tidak nampak lagi lalu lalang para penghuni apartemen lainnya. Cukup sunyi.
Hanya canda dan tawa kecil kami saja yang terdengar.
Lift telah berhenti di lantai 8,

Mereka melewati lorong kamar yang dilapisi ‘kain beludru mewah’ dan suasana yang sudah tidak ada lagi ‘kehidupan’.
Ya malam itu bukanlah malam panjang/malam minggu…sehingga jam seperti ini, para penghuni disini sudah tertidur pulas.
Kamar Alexis berada diurutan ke 2 dari pojok.

Sesampainya didepan pintu kamar, Alexis segera mencari “kartu pass” dalam tasnya, dan segera memberikannya padaku untuk mengesekkannya pada slot didepan pintu tsb.

Aku pun mengesekkan kartu tsb. Tetapi indikator pintu tersebut selalu bertanda merah. Pintu tidak bisa membuka.
Berulang kali aku mengeseknya…hasilnya tetap sama. Cukup lama. Alexis hanya bersandar ditembok menunggu usahaku.

“Bagaimana Jeff?”, tanya Alexis.

“Tidak bisa”, balasku cepat sambil terus mencoba mengesek kartu tsb. Baik dengan cara cepat ataupun lambat, tetap saja indikator itu tidak berubah warna menjadi hijau.

“Apakah kamu yakin, ini kartumu?” tanyaku kemudian.

“Tentu saja”, balasnya.

“Tapi…tunggu dulu Jeff”, balasnya kembali sembari mengecek tasnya.

“A..ha…sorry….kartu itu milik temanku”, sambil ia meminta kartu yg dipegangku dan memberikan kartu lainnya yg baru ia temukan dalam tasnya.

“Ini…milik Aline dilantai 2…ia sedang keluar kota dan menitipkannya padaku”, balas Alexis menjelaskan.
“Tapi…sebentar dulu….”, Alexis menyela pembicaraan kami dan mendekatiku kemudian mencium ku…Akupun membalasnya.

Alexis segera mencari retsleting celana jeans-ku dan membukanya..mencari ‘barang’ yang pernah ia lumuri dengan air liurnya di taxi tadi.
cerita hot
“Hei…nanti ada orang lewat”, cegahku halus.

“It’s ok….tidak akan ada”….”Akan menjadi menarik, bukan?”, tantang Alexis sambil menatapku tersenyum.

Alexis segera melumat penis-ku.
Aku terpaksa bersandar di dinding.
cerita 17 tahun
Kami melakukan “blow job” di tempat umum!

Aku deg-degan tapi bagi Alexis itu menambah birahinya.
Aku celingkuan kesana kemari memandang koridor lorong tsb, mengantisifasi jikalau ada orang lewat.

Alexis menurunkan jeans-ku “setengah tiang”.

Menjilati semua bagian kemaluan-ku, dari batang penis, buah zakar hingga mendekati lubang anus-ku.

Aku mengeliat nikmat. Aku segera merogoh dari atas baju Alexis dan mencari payudara indah yang tersembunyi disana.
Meremas, mengusap dan memililin puting payudara Alexis hingga membuat-nya terangsang.
Sensasi luar biasa, ‘anal sex’ di lorong apartemen!

Suasana ruangan yang sepi berubah menjadi sayup-sayup terdengar “ceppp….ceppp…” akibat sedotan keras Alexis pada batang penis-ku. Mengemut kuat batang penis-ku sambil tangannya tak henti-henti meremas buah zakar-ku.
cerita hot
Sesekali aku..lepas kontrol dengan menekan keras kepala Alexis pada penis-ku agar menelan semua batang penis itu.

Urat disekeliling penis-ku yang membesar, menambah indah bentuk sang penis bagi Alexis. Ia sangat suka sekali. Berusaha menghisap sekerasnya kemaluan tersebut layaknya batangan coklat. Nikmat…dan fresh…
cerita 17 tahun
Tak lama terlihat lampu lift menyala dari lantai bawah hendak menuju keatas.
Aku panik dan mendorong lepas kepala Alexis, “ssstt….ada orang naik”, kataku sambil bergegas menaikkan celana-ku.

Ternyata lampu itu hanya berhenti di lantai bawah kami.
Kami memutuskan untuk masuk saja agar lebih aman.
Pintupun terbuka dan kami segera masuk.

Alexis segera menuju ke shower. Aku menyusul kemudian.

Kupandangi seluruh tubuh sang artis. Payudara itu sedikit kecil tapi putingnya sangat terlihat bagus.
Alexis tidak perduli dengan pandangan-ku, ia terus membaluri tubuhnya dengan air hangat dan sabun gel-nya.

Aku segera jongkok dan membalikkan tubuh Alexis. Pantatnya begitu padat, bulat dan berisi. Ohh…pemandangan yang indah sekali.
Aku meminta sedikit sabun gel tsb pada Alexis. Akupun mulai membantunya mengosok dan membersihkan pantat indah itu. Sesekali aku ciumi pantat itu.

Kugosok dan ku-busahi semua bagian bawah itu, dari mulai area vagina bagian depan hingga lubang anus Alexis.
Aku meyakinkan bahwa semua “lubang” yang dimiliki Alexis telah aku bersihkan. Sesekali kutekan sedikit kedua lobang tersebut dengan jari-ku sehingga menambah daya erotis sang artis. Alexis mendehem pelan. Ia pasti ia sedang merasakan sedikit sensasi pemanasan yang tak kalah nikmat.

Aku mulai naik keatas dan menyabuni payudara itu.
Payudaranya sudah mulai mengeras dan menjulang tegak kedepan.
Kuusap sekeliling payudara itu dengan penuh hikmat. Busa2 yang mengitari “buah melon” itu membuat pemandangan menjadi semakin indah.
Akupun tak sabar ingin mencicipi hidangan “buah segar”.
Hmmm…manis sekali rasanya…aromanya segarnya begitu menusuk hidung.
Alexis “mengonggong” layaknya serigala liar dengan aksi tsb. “Suck it babe…bit it…”, mohonnya padaku untuk menghisap dan mengigit melonnya.

“Engkau menungguku sayang?”, tanyaku sedikit canda pada payudara tersebut.
Aku pun melumat dan mengigit halus puting itu.

Alexis “meraung” nikmat. Tubuhnya gelojotan ke kiri dan kanan. Geli tapi nikmat.

Sekarang posisi berbalik arah.
Alexis yang jongkok dan aku berdiri.
Ia mulai menyabuni pisang ambon-ku dan buah salak juga.
Dan tak lupa anusku.

Alexis membuka mulutnya dan memakan “pisang ambon-ku”. Memagutnya layaknya sang ular memangsa tikus. Sedikit demi sedikit dan akhirnya tertelan semua. Penisku yang mulai tegang dan mengembang berhasil ia telan!

Tak lama kemudian kami membilas tubuh kami dan ia segera lari keluar dari ruang shower dan melompati keatas kasurnya.
“Come on..Jeff?”, jari telunjuknya mengacung memanggil-ku.
pecah perawan
Aku yang masih menghanduki tubuhku sambil tersenyum melihat aksi nakal dan sedikit liar dari Alexis.

Alexis mengoyang-goyangkan bagian pinggulnya seperti merayuku untuk menikmati sajian utamanya.
Pemandangan yang sangat liar!

Aku menyusup layaknya tentara yang sedang gerilnya, mencari sesuatu diantara selangkangan indah itu.
Kutemukan sebuah bibir gua merah halus yang terasa harum sekali. Membukanya dengan kedua tanganku dan menemukan daging kecil kecoklatan dan dalam vagina itu.
Aku mulai memasuki vagina itu dengan lidahku, sedikit demi sedikit dan “kusentil” clitoris itu dengan lidahku.
cerita horny
Alexis refleks terangkat bokongnya akibat sentilan lidahku. “That’s right babe…!”, gumam Alexis girang.
“Suck it honey…”, mohon Alexis untuk menghisapnya.
cerita dewasa gadis pecah perawan
“Hmmm…siapa yang keberatan?”, candaku membalas.
Aku pun memainkan liar lidahku dalam area vagina yang sedikit mulai basah itu dan menghisapnya. Sesekali kutarik clitoris itu keluar yg membuatnya menjerit erotis.
“OOOwwww….yesss”, komentar Alexis girang.

Alexis sudah tidak tahan. “Fuck me now…fuck me now!”, pintanya sambil menarik tanganku.

Karena Alexis masih virgin, maka aku tidak ingin langsung menembak sasaran.
Aku segera berbaring di kasur dan menjelaskannya pada Alexis hal demikian. Silahkan kamu yang mulai dan aku akan menyambutmu.

Memang tidak mudah bagi seorang gadis melakukan hubungan intim untuk pertama kali dan melepas ke-perawanannya, dan aku membiarkannya untuk ia menentukan sendiri kapan harus “dimulai”.

Alexis tersenyum dan menurut.
“Ohhh..come on, you’re so cute..”, balasnya berterima kasih padaku.

Alexis segera mengangkangi selangkanganku dengan kaki terlipat kebelakang dan memberi penisku sedikit pelicin dengan air liurnya.

Ia meraih penis tersebut dengan tangannya dan mengarahkan pada vaginanya. Pelan dan teratur!
Aku hanya tersenyum memandanginya sambil kuusap kedua payudaranya yang telah keras dan tegak menjulang.

Pelan tapi pasti penisku mulai menyentuh bibir vaginanya dan ia berusaha menekan pantatnya sedikit demi sedikit.
Terkadang ia mengangkat kembali pantatnya, karena merasakan sedikit kurang nyaman saat kepala penisku mulai masuk dalam vaginanya.

Inchi demi inchi ia mencoba menelan penis ku. Vagina itu sudah terasa cukup bahasa akibat orgasme kecil.

Aku rasakan lobang sempit vagina itu mulai sedikit memberi ruang pada penisku untuk terus masuk. Sehingga aku sedikit membantunya dengan memberikan tekanan keatas.
Alexis hanya terpejam matanya, merasakan sesuatu yang luar biasa memasuki vagina virginya.

3 inchi penis tersebut telah masuk sukses dengan banyaknya busa putih yang menempel pada bagian kepala penisku.

Dorongan birahi Alexis yang sudah setinggi gunung memaksanya untuk menekan lebih dalam. Dengan sedikit tekanan bantuanku akhirnya 6 inchi penisku telah “tertelan” dalam vaginanya dan Alexis tersontak kaget menahan dengan dorongan penisku.

Ia segera melepas vaginanya. Dan langsung berbaring disampingku sambil memegang selangkangannya.
Sedikit air matanya turun dari wajahnya.
Aku segera berpaling dan melihat wajah itu. Mengusap air matanya sambil kuciumi kelopak mata Alexis.
Aku berusaha memberi ketenangan pada sang gadis ini.

“It’s ok..Jeff”, katanya sedikit menghibur.

Aku mengerti apa yang ia rasakan.
Ia sedikit menahan rasa sakit pada vaginanya. Dan juga mungkin membayangkan bahwa ini akhir dari masa virginnya.

“Ini akan segera berlalu…sayang”, hiburku padanya. “Dan pasti berjalan lancar”.

Aku segera bangun dan menduduki kaki Alexis.
Kulihat sedikit darah yang mengalir pada vagina itu. Aku segera membersihkan pingiran vagina tersebut dengan kain spreinya.

Alexis hanya tersenyum walaupun masih ada air mata yang mengalir pada wajahnya.

Kali ini aku mengarahkan kembali penis-ku pada vagina tersebut dan mengesampinkan kedua paha Alexis.

Paha-ku mulai mengambil posisi dibawah paha Alexis.

Begitu kepala penis itu sudah masuk, aku segera menghampiri wajah Alexis, menciumi dan melumat bibirnya.
Memasukkan lidahku dalamnya mulutnya dan melumat semua bagian dalamnya. Lidah, langit2 mulut dan gusi Alexis, kuusap dengan lidahku.

Aku berusaha untuk menaikkan kembali birahi Alexis.
Sementara itu penisku kubiarkan masuk hanya sebatas kepala penisnya saja.

Alexis mulai bereaksi dengan membalas setiap lumatan mulutku. Sangat dalam dan romantis.
Getaran jantung Alexis yang sudah mulai kencang, menandakan gadis itu sudah mulai terbakar kembali gejolak seksnya.

Tanda seperti itu ku manfaatkan untuk penetrasi penisku lebih dalam.
Turun-naik, inchi demi inchi.
Penisku mulai masuk sebagian.

Otot vagina Alexis sudah mulai sedikit “lunak” seirama dengan keluar-masuknya batang penisku.
Walaupun terkadang ia tersontak kaget, tapi ia mulai merasakan sedikit nyaman.

6 inchi penisku telah masuk kedalam vaginanya. Dan Alexis merintih nikmat.

Aku berfikir “inilah saatnya”.
3 inchi yang tersisa dan aku tuntaskan dengan segera!
Dengan diameter 1,5 inchi saat mengembang dan panjang 9 inchi tentulah tidak mudah bagi seorang perawan untuk menerimanya, tapi aku yakin rasanya Alexis sudah siap menerima penisku “secara utuh”.
cerita dewasa gadis pecah perawan
Alexis mencengkram keras sprei kasurnya terhadapa 6 inchi batang penisku yang bersarang dalam vaginanya.

Ia mengeliat keras. Kepalanya mengeleng kesana kemari. Tetapi karena aku tidak melepaskan lumatan bibir kami, kekuatan gelengan Alexis sedikit tertahan.

Aku merasa ini sudah waktunya.

Dengan mengumpulkan sedikit tenaga aku mulai menekan pelan vagina Alexis tanpa putus hingga terbenam semua dan menyentuh zakarku.

Alexis langsung melepaskan lumatan ciumanku.
cerita ngentot
Ia terkejut hebat…menjerit keras..”oooohhhh….nooooo!’.

Ia berontak! Pantatnya bergerak kekiri dan kekanan seolah mengelak dengan “kedatangan” penisku.

Penisku sudah terbenam semua! TAK ADA YANG TERSISA!

Alexis terus berontak keras!…merintih…menahan rasa sakit…dan menangis…

Aku terus menekan keras pinggulnya untuk terus merapat pada Vagina Alexis. Kemanapun arah pantat Alexis bergerak, aku ikuti.

Sekuat tenaga Alexis, berusaha melepaskan penisku. TAPI…SIA SIA!.

Penisku bagaikan paku tertancap papan dengan sangat dalam!

Aku mebiarkan Alexis panik…dan aku yakin alexis akan kembali tenang.

Sementara itu kubiarkan penisku didalam vaginanya dan merasakan setiap denyut dan jepitan otot vagina itu. Aku berusaha menekannya terus agar tidak tertarik keluar.

“Jeff…take it out nowwww!”, pinta Alexis untuk mencabut penisku sementara waktu.

“I’m hurt..Jeff!”, mohon alexis dengan sangat.
pecah perawan
Aku mengerti keadaan demikian. Alexis panik dan merasa tidak sanggup. Tapi aku yakin itu tidak akan berlangsung lama.

Aku merasakan cairan darah dalam vagina itu mengalir keluar kembali dan mengaliri buah zakarku. Cukup panas!

Kedutan dan jepitan vagina Alexis begitu keras dan sangat menjepit. Bagikan tulang yang menjepit batangan penisku.
cerita horny
“Jeff…please!”, pinta Alexis sekali lagi untuk mencabut penisku. Tetapi suaranya mulai merasakan terkontrol baik.

Ya..aku merasa vagina Alexis sudah menerima kedatangan penisku secara utuh.

Kulihat wajah Alexis yang sedikit meringis sambil mengigit bibirnya.
Aku melihat gadis itu sudah siap dengan aksiku berikutnya.

Aku mulai mencabut penisku secara perlahan. Alexis kembali tersontak kaget…seakan ada mata pancing di vagina dan menarik keluar.

Alexis menjerit keras kembali.
“Ohhhh…nooo…Jeff”, teriakannya sedikit kencang.

Aku tekan masuk kembali penisku.
Alexis terbelalak dengan aksi tsb.
Meraung sejadi-jadinya….
cerita dewasa gadis pecah perawan
Aku mengoyang penisku sedikit kekiri dan kekanan dan menarik keluar perlahan.

Alexis mengelengkan kepalanya dengan keras kesana kemari. Tangannya tidak lagi mencengkram kain sprei, malah menarik kain sprei tersebut!

Disaat itu, Aku kembali menghujamkan penisku dengan perlahan pada vaginanya.
cerita ngentot
Alexis meraung bagai serigala…hingga kepalanya sampai berdiri.

Aku segera melumat bibirnya sambil mencabut sedikit penisku dan tak berselang lama kemudian, kuhujamkan kembali penisku dalam vaginanya. “Sleeeeppppp…”

Alexis gelojotan dan mengigit keras bibir bawahku. Sedikit sakit, tapi bisa kutahan.

Aku segera mencabut penisku dan menusuk kembali vagina tersebut dengan sedikit cepat…dan makin lama makin cepat …!
cerita ngentot
Alexis merintih dan merangkulku dengan keras.

Sekarang ia sangattttt menikmati permainan kami.

Aku semakin cepat memompa vagina Alexis, hingga payudaranya bergerak kesana kemari.

Gerakan payudara itu seirama dengan setiap hujaman penisku dalam vaginanya.
Kejal dan hilir mudik.

Alexi sudah mendekati klimaks!. Ia sedikit berteriak, “Jeff aku hampir sampai…”.

Aku semakin bersemangat. Aku berusaha mempercepat frekwensi goyanganku agar kami mencapai orgasme berbarengan.

Akhirnya ditengah derasnya “terjanganku”, ia memuntahkan semua spermanya.
“serrr….serrrrrrrrr….aliran deras spermanya menghantam penisku”
Semburan itu terasa hangat.

Aku semakin mempercepat gerakanku, dan kusemprotkan luar dalam vaginanya. croooottt…crottt..

Alexis hanya tersenyum puas. Akupun demikian. Kami berciuman kembali untuk melepaskan segala kepuasan kami. Aku segera berbaring dan ia bersandar di dadaku.
Menciumi putingku dan terima kasih atas pelayanan yang kuberikan.

Kamipun bersenda gurau, sambil kudengarkan rasa dan fantasi yang telah ia rasakan barusan.

Selanjutnya beberapa jam kemudian ia memintaku untuk melakukannya kembali.
Ya…kali ini ia akan “melakukan lebih extra” dari yang pertama ia lakukan!
Kali ini anusnya aku hujam dengan penisku dan ia sangat bergairah sekali dengan babak ini.

Hingga kami tertidur pulas sampai esok pagi.
Akupun meninggalkannya dan “keluar dari kehidupannya” dengan kenangan terindah dalam dirinya dan juga untukku.

Seandainya ia sudi menjadi milikku…. mungkin aku akan berhenti dari pekerjaan ini…mungkin….

———————–
Bonus film bokep yang bisa didownload dan diputar “Nyepong dan Ngentot”
Nyepong dan Ngentot

Sex dengan Ibu Temanku

Halo..namaku Samuel (bukan sebenarnya) dan saya tinggal disebuah kota kecil di India yang bernama Coimbatore.
Saya berumur 20 tahun. Saya ingin berbagi kisah mengenai kehidupan seks saya.
Terus terang awalnya saya tdk begitu “naka” di bidang ini, tetapi seiring pertambahan usia hingga menjelang SMU, bentuk kemaluanku sedikit lebih besar dibanding teman seusiaku bahkan yang jauh lebih tua. (ini benar adanya).
Banyak dari temanku menyuruhku untuk membuka celanaku untuk melihat seberapa besar kemaluanku.

Saat berusia 18 tahun dan merupakan tahun pertama pada masa perkuliahan, saya berteman dengan seorang pria bernama Arun Kumar. Ini adalah teman pertama saya saat kuliah. Dan kami menjadi semakin akrab setiap harinya.

Ia banyak memberikan pengalaman menyenangkan kepadaku. Beberapa kali ia melakukan kuluman pada kemaluanku juga dengan mengunakan tangan. Terus terang bagiku ini sunguh nikmat sekali. Belakangan aku tahu kalau ia pernah melakukan hal yang sama pada teman pria lain.

Suatu hari saya pergi kerumahnya seperti biasa. Dan ia tidak ada ditempat.
Ibunya yang biasa aku pangil Tante Rasna ada ditempat. Kalau anda tahu aktris bolywood Sri Devi atau Jema Malini, hampir seperti itulah rupanya. Bentuk tubuh yang padat dan sexy, payudara yang besar dan wajah yang minta ampun cantiknya.
cerita-dewasa-sridevi.jpg
Tante Rasna mengatakan bahwa temanku tsb tidak ada dirumah (belum pulang), dan menyuruhku untuk menunggunya di ruang tamu.
cerita-dewasa-sridevi4.jpg
Ia menawarkan padaku secangkir kopi dan aku ucapkan terima kasih. Saat itu ia mengunakan blouse putih halus yang membuat bentuk tubuhnya samar2 jelas terlihat.
Kamipun ngobrol ala kadarnya dan tak disangka ia mendekatiku.
cerita-dewasa-sridevi2.jpg
Bayangkan saat itu aku termasuk pria yang belum mengenal hubungan seks berlawanan jenis dan ia adalah wanita yang telah berusia 40 tahun yang tentunya memiliki pengalaman tertentu mengenai hal ini.
Tiba-tiba ia meraba selangkanganku dan meremasnya dengan keras.
Aku terkejut dan sedikit berdiri, kemudian ia langsung menarikku untuk duduk kembali.

Ia hanya tertawa melihatku yang terlihat pucat dan tidak bisa berkata apa-apa.
Aku hanya berpikir ia adalah ibu dari teman akrabku.

Sambil tersenyum ia kembali memegang bagian selangkanganku dan aku tetap diam membisu hanya memandangnya dengan seribu pertanyaan tanpa jawaban.

Tidak bisa kupungkiri, wajah menawan itu telah membuat kemaluanku berdiri. Dan anda tahu kalau kemaluanku memiliki ukuran yang diatas normal.

Tanpa sepatah katapun ia terus mengosok kemaluanku dan entah setan apa yang menghingapiku, langsung ku labrak bibir tante Rasna.
Aduhh ini pertama kali aku berciuman dengan lawang jenis dan rasanya melambung jauh. Darah dikepalaku seperti mau keluar.
cerita-dewasa-sridevi3.jpg
Aku tidak begitu mahir dengan apa yang harus lidahku mainkan ketikan lidah tante Rasna merasuk dalam mulutku hingga menekan kerongkonganku.
Beberapa kali kurasakan lidahnya menyapu langit2 mulutku, gigiku dan mengusap lidahku.
Sementara lidahku hanya diam membisu.
Sesekali ia menyedot lidahku dengan sangat kuat hingga pada saat lepas dari pagutan masih terdapat air liur yang menetes pada lidahku dan mulutnya.
Sungguh pengalaman yang sangat luar biasa dan liar sekali.

Kemudian ia memintaku untuk membuka celanaku dan melihat kemaluanku. Tapi aku menolak. Namun ia tetap memaksa dengan berkata satu kali ini saja untuk melihatnya.

Kemudian ia sedikit menurunkan blouse bagian atasnya dan memperlihatkan bentuk payudara indahnya dan memintaku untuk membuka celanaku.
Wauww..payudara itu indah sekali dihiasi dengan kalung giok yang bergelantungan diantara payudara tersebut membuat pemandangan menjadi semakin indah menakjubkan.

Akupun membuka celanaku dan sejenak ia memandang kemaluanku dengan senyumnya yang menawan. Tanpa dikomandoi apapun ia telah duduk di bawah sambil meraih kemaluanku.
Dipegang dan diusapnya dengan halus bagian atas kemaluanku hingga tanpa terasa ada sedikit cairan yang keluar dari penisku.

Tanpa sungkan segera saja Tante Rasna melumat penisku hingga semua tertelan dalam mulutnya. Kulihat matanya yang terpejam menikmati penisku dan menghisapnya dengan sangat kuat.
Sepertinya tante Rasna cukup mahir adegan seperti ini. Terkadang ia sedikit mengigit kemaluanku hingga aku tersentak kaget, tetapi ia lanjutkan kembali dengan lumatannya.

Akhirnya ia meyuruhku untuk melepas semua pakaianku dan ia pun beraksi secara halus dan perlahan melepaskan pakiannya sendiri satu persatu hingga tanpa busana.

Setelah pakaianku terlepas, ia menarikku kekamarnya. Kemudian menjatukanku ditempat tidur. Sepengetahuanku teknik bercinta yang aku kenal adalah aku diatas dan ia dibawah.
Tetapi nampaknya ia akan mendudukiku.
Ia mengatakan akan menunjukkan aksi yang sangat nikmat. Ia mengatakan bahwa penisku termasuk besar dan ia membutuhkan daya kontrol terhadap penisku.

Segera ia meraih penisku dan sedikit demi sedikit ia memasukkan dalam vaginanya.
Ohh..vagina itu terasa panas dan lengket.
Akhirnya terbenam semua kemaluanku dalam vagina tersebut dan ia pun megoyankan kiri kanan, atas bawah dengan cepat dan keras.

Sambil mengosok payudaranya sendiri yang sudah tegang, ia pun menyodorkan payudara indah tersebut untuk aku cium.
Tak perlu tunggu waktu lama, segera saja kulumat payudara tersebut hingga membuatnya semakin keras menghentakkan pantatnya ke arah penisku.
Uh rasanya kemaluanku telah menyentuh dinding rahimnya.

Akupun melumat payudara tersebut dengan sekenanya saja. Namun begitu aku merasakan kenikmatan yang luar biasa saat melumat daging tumbuh yang alot tersebut.
Tak terasa keringat kami telah membasahi kain sprei tempat tidur hingga akhirnya tante Rasna menjerit nikmat sambil melumat bibirku.
Kurasakan cairan hangat menghinggapi kemaluanku. Tante Rasna sudah mencapai klimaksnya.
Akupun demikian, dan saat mencapai puncaknya aku berkata…tante aku sudah tidak tahan lagi…
Ia pun segera melanjutkan..keluarkan saja didalam…tidak apa2.

Mendapat lampu hijau demikian, segera saja kulapangkan perasaanku untuk menyelesaikan permainan ini dengan mengeluarkan didalam.
Crot..crot….crot…kurasakan 5x menyemprot spermaku dalam vagina tante Rasna….dan ia pun tersenyum.
Badanku terasa lemas sekali dan pandanganku sedikit berkunang…

Kurasakan spermaku yang berkubang dalam vaginanya….ohhh rasanya lega dan nikmat sekali…

Begitulah kejadianku..dan kamipun segera menyelesaikan skandal tersebut dan tetap menjadi rahasia kami berdua.
Hingga saat ini aku tidak tahu jika temanku mengetahui perbuatan kami tersebut.
Yang jelas itulah kejadian pertama kali hubungan lawan jenis yang kualami dan tak akan terjadi yang kedua kali dengan tante Rasna.

========================
Bonus film bokep yang bisa kamu download dan kamu tonton “amoy sedang esek-esek”
amoy sedang esek-esek

Dengan Jenifer

Aku (Dale) selalu memiliki fantasi sendiri terhadap Jenifer Aniston. Saat mendengar bahwa ia (Jenifer Aniston) akan membuka ceremony penghargaan sebuah klub science dan engineering, aku merasa memiliki kesempatan berbicara dengannya. Menurutku demikian.
cerita dewasa - jenifer aniston
Sebenarnya kami telah berkenal baik melalui internet. Dan photo ku pun sudah ku kirimkan padanya, sebagai pengemar beratnya.
Akhirnya karena Aku dapat menjaga ’sikap’ dalam menghadapi ‘idola’nya maka Jenifer selalu membalas dengan baik ‘chating online kami’. Hingga terkadang kami menceritakan masalah yang tergolong pribadi. Aku termasuk pemuda yang bisa dibilang ganteng dan berpendidikan. Disinilah mungkin letak salah satu ketertarikan Jenifer untuk membalas dan bercerita secara dalam dalam chating kami.

Terus terang terkadang kami melakukan obrolan yang dalam seperti masalah hubungan intim dan pengalaman bercinta mereka.
Apakah Jenifer menyukai Ku? Itu tidak tahu. Tetapi cerita dewasa ini akan patut kamu baca.

Ceremony itu hampir selesai dalam beberapa jam kemudian dan sepertinya ia (Jenifer A) melihat keberadaanku.
Sehingga begitu ceremony selesai, Aku segera menuju kamar pengantinya, kamar no 32.
Saat ia masuk, Jenifer sedang sendiri dan sedang menikmati secangkir kopi dan menatap kepemandangan luar melalui jendelanya.

“Hmm..permisi”, Aku menyapa.
Jenifer segera berpaling dan menatapnya sambil tersenyum, “Ooohhh kamu…Ya…”
Aku membalas dengan gugup, “Saya….eee…ingin bertanya pada anda, jika anda berkenan.” “Saya mengharap keberadaan saya sama situasinya saat kita chatting”

Jenifer tertawa, “Dale masuklah…angap seperti rumahmu sendiri”. Fantastis!
jennifer-aniston-1.jpg
Aku segera masuk dan mengunci pintu kamar, dan karena hayalan yang tinggi ada pada diriku, aku melihat Jenifer memainkan lidahnya sembari berkata, “kemari dan bercintalah denganku”.
Tak disangka…tiba-tiba ia menghampiri ku dan menurunkan retsleting celananya, meraih penisnku dan langsung memasukkan kedalam mulutnya.
Kemudian Jenifer melepaskan kuluman tersebut dan segera duduk di kursi, “lakukan apa yang ingin kamu lakukan padaku !” sembari tersenyum mengoda.

Aku tak percaya dan juga tidak menyiakan kesempatan tsb, aku segera datang menghampiri dan menurunkan blouse, pakaiannya dan terakhir BH nya.
cerita-dewasa-jenifer2.jpg
Segera aku meremas dan memilin kedua payudara indah tersebut, memijit putingnya sehingga membuat payudara tersebut mengembang dan keras.
Aku segera menurunkan kepalaku dan mengarah pada kedua bibir vagina Jenifer dan membasahi dengan air liurku. Akupun memainkan kedua bibir vagina tersebut dan memasukkan lidahku dalam vagina tersebut. Tercium aroma yang sangat nikmat dari vagina itu.
cerita-dewasa-jenifer3.jpg
Sambil memainkan lidahku dalam vagina tsb, Aku meraih kedua payudara Jenifer sambil meremas dan memilin kedua putingnya.

Puas dengan aksi tersebut, Aku meletakkan penisnya diantara kedua payudara tersebut sambil megesek-gesekan. Jenifer pun menekan erat kedua payudaranya sehingga penis ku terasa terjepit erat. Nikmatnya….
cerita-dewasa-jenifer-aniston.jpg
Jenifer lalu berkata, “Jangan buang percuma sperma mu ditubuhku…masukkan kedalam memekku..please…”

Aku pun segera kembali menuju ke vagina Jenifer, berusaha agar vagina tersebut mengeluarkan cairan lendir, yang menandakan ia sudah terangsang dengan aksi cum tersebut. Vagina itu mulai nampak basah, Jenifer mengeliat nikmat…

Jenifer sudah tidak tahan dan berkata, “fuck me! fuck me!”.
cerita-dewasa-jenifer-aniston2.jpg

Aku segera menindih tubuh Jenifer dan menjambak rambutnya, melumat bibir dan penisku berusaha mencari bibir vagina Jenifer..

Jambakan rambut itu begitu keras sehingga Jenifer agak sedikit terdongak, Aku pun megarahkan ciuman dan pagutanku disekeliling leher jenjang itu.

Aku merasakan penisnku seperti berada tepat dipermukaan kedua bibir vagina itu.
Aku segera menembak vagina itu dengan perlahan, sedikit demi sedikit. Terasa serat alur didalam vagina itu dan cairan lendir dalam vagina itu memberikan sensasi rasa sendiri pada penis ku.
Jenifer memejamkan mata sambil merintih, “Oughhh…”
Penis ku termasuk memiliki ukuran yang lumayan besar, sehingga begitu menekan dan memasukkan semua penis dalam vagina itu, Jenifer tak kuasa menahan jeritan, “Oughhhhh…god….”. Penisku melabrak dan menabrak dinding rahimnya….

Aku merasa Jenifer siap untuk aksi berikutnya, ia pun menarik kembali penis ku…dan kali ini aku menghujamkan dengan keras dalam vagina indah itu. Jenifer berteriak kembali sambil berusaha menahan hentakan keras tersebut pada kain sprei kasurnya….

Tubuh Jenifer maju mundur karena kuatnya dorongan penis ku. Ia berusaha menahan setiap tekanan pantatku dengan memegang sisi belakang ranjangnya.
cerita-dewasa-jenifer-aniston3.jpg
Tetap saja, Aku yang sangat bernafsu menghempaskan penis dalam vagina Jenifer yang indah dengan bertambah keras…keras sekali….Jenifer tak kuasa menahan setiap hujaman penis ku…sehingga ia tetap saja maju mundur dalam setiap hentakan penisku.

Sambil melumat kedua puting Jenifer, Aku terus menghujam vagina Jenifer dengan irama yang sangat cepat. Ceplak…ceplok…suara ‘kubangan lendir’ dalam vagina Jenifer.

Jenifer sudah tak kuat dan meminta ku untuk menghujami anus nya…karena ia ingin menambah sensasi lainnya sebelum permainan selesai.

Aku menurut, dan segera mencabut penis ku dari vagina Jenifer yang agak sedikit ‘merah memar’ akibat benturan keras, dan membalikkan tubuh Jenifer.

Sekarang posisi Jenifer Aniston tertelungkup dengan bokong yang ditunggingkan.
Aku melihat sebuah pemandangan yang indah….lubang anus itu begitu bersih dan terawat.

Tak menunggu lama, Aku segera mengarahkan penis ku dalam lubang anus tersebut.
Sedikit demi sedikit aku berusaha memasuki lubang anus Jenifer.
Penis itupun berhasil masuk total dalam lobang anus tersebut. Jenifer meraung nikmat. Ia mencengkram keras sprei kasurnya menahan rasa yang sedikit perih tapi nikmat tersebut.

Aku pun mempercepat gerakan pompa ku dalam anus tersebut. Jenifer semakin merintih nikmat.
Jenifer merasa ini sudah cukup dan ia ingin segera mengeluarkan orgasmenya.
Jenifer meminta Ku untuk mencabut penis ku dan ia pun segera berbalik normal.

Sekarang masukkan kembali penismu dalam vaginaku…”aku sudah tak tahan”. “Fuck me hard Dale !”

Aku segera mengarahkan kembali penis ku dalam vagina Jenifer yang agak sedikit ‘lebam’ dan Aku mengumpulkan tenaga dengan sekuatnya. Begitu kepala penis itu sudah masuk dalam bibir vagina tersebut…Aku pun mengeluarkan semua tenaganya untuk 1 kali ‘hujaman’.

Jenifer berteriak, “Dale itu kasar….sakit…Dale!”

Aku hanya tersenyum sambil memandang Jenifer, dan kembali aku hujamkan dengan keras. Kali ini Jenifer hanya tersenyum dan ia menantang ku….”Ayo…Dale…hanya segitu?”
Aku tertantang…tidak hanya hujaman tetapi juga frekwensi ‘tusukan’ ku, ku percepat….Jenifer terpejam…”Ougghhh that’s it..!”

Jenifer meminta itu lagi…”lebih kuat lagi Dale….lebih kuat lagi Dale”..
cerita-dewasa-jenifer-aniston4.jpg
Sepertinya Aku sudah mengeluarkan tenagaku untuk memuaskan nafsu Jenifer…tetapi Jenifer selalu meminta vaginanya agar dihujami lebih cepat dan keras….
“Pecahkan vaginaku..Dale..pecahkan vaginaku Dale….” jerit Jenifer.

Aku merasakan vagina Jenifer menjepit keras penis ku, sepertinya Jenifer akan segera ‘keluar’.

“Tekan yang keras Dale…tekan yang keras Dale…!” Jenifer memohon sambil menjerit…

Dan…vagina itupun memuntahkan spermanya….”Ougghghhgh….Dale…i’m outttt……..”

Jenifer tersenyum lemas pd Dale, “Gantian kamu Dale…”

Aku hanya menatap Jenifer sambil berusaha mempercepat tusukan demi tusukan untuk menyelesaikan permainannya…

Jenifer hanya tersenyum memandang ku, dan memberikan payudaramu untuk ku lumat…
Aku pun melumat dan mencupangi kedua payudara tersebut…sambil pantat ku tak hentinya turun naik.

Jenifer sepertinya mulai orgasme kembali akibat aksi ku…ia pun segera sedikit mengangkat pantatnya agar agak sedikit condong keatas…

“Berikan aku sekali lagi DAle….”…Jenifer memegangi pantat ku sembari berusaha menekan pantat tersebut agar menekan keras vaginanya…

“Plok…plokkk…plokk…plokk…”, kubangan dalam vagina itu seperti mau muncrat akibat ‘hujaman ku’.
Jenifer berkata, “Dale…aku hampir keluar lagi Dale…”.
“Aku juga Jen…” balas ku sambil mempercepat goyangannya…

Dan Jenifer pun berteriak nikmat sambil meraih kepala ku untuk melumat bibir ku…keluarlah sperma kedua Jenifer….”Oh….gooooodddd….”
Aku pun sudah tidak tahan lagi dan menyemburlah sperma ku dalam vagina itu secara berbarengan…..serr…serrr…serrr..
Ruang vagina Jenifer sekarang sudah banyak dilumuri “Lumpur sperma” kami berdua..

KAmi puas, tertawa dan memberi isyarat agar rahasia ini bisa dijaga.

Beberapa bulan kemudian Aku membaca sebuah koran yang menyatakan Jenifer Hamil! Entah sama siapa!

Yang jelas tak lama berselang aku menerima tagihan check dari Jenifer sebesar $100,000 karena mengakibatkan dirinya hamil! That’s big bucks! shiiitts

============================
Bonus film yang bisa didownload dan diputar “Cinta pertama”
Kalau ada masalah dalam menontonnya silahkan tanya pada komentar ini
Cinta pertama

Kolam Renang

Kolam VIP jacuzzi dalam hotel tersebut merupakan tempat yang sangat pribadi sekali bagi yang membutuhkan, khususnya pada tengah malam. Sepertinya untuk tujuan itulah hotel memberikan service yang lebih pada setiap pengujung VIP mereka. Dan ini tidak bisa digunakan untuk tamu biasa, karena kolam sejenis itu ada pada ruangan lain.

“Ayolah, cobalah dahulu,” ujar salah seorang wanita yang berada dipinggir kolam.
Bahasa itu seperti sebuah canda dari sekelompok wanita yang aku yakin sekali memiliki postur dan raut wajah yang cantik.
Salah satunya telah membuka sepatu dan telah menangalkan pakaiannya hingga nampak tinggal berbikini saja.
Mereka adalah Chaterine Zeta Jones dan Julia Roberts.

Tanpa sungkan, wanita yang berbikini tsb (Chaterine Zeta Jones) terjun kekolam, menampakkan bra nya yang basah dan samar terlihat bentuk indah dari payudara tsb.

Tak lama kemudian, ia menangalkan semua pakaian bikininya dan membuangnya kepinggir kolam.
Kolam itu dalamnya hanya sebatas pinggan orang dewasa.
Sunguh pesta yang menyenangkan bagi mereka.

“Aku tidak tahu,” kata Julia Roberts yang berada di pinggir kolam, sambil mengigit bibirnya.

“Oh, ayolah,” kata Catherine Zeta-Jones, sambil berdiri didalam kolam, secara tidak sadar ia telah memperlihatkan bentuk telanjangnya dalam remang2 cahaya kolam.
“Santailah sedikit, kau pasti membutuhkan itu. Aku tahu kau ingin membuang semua stress, ini sangat baik sekali.”

“Sepertinya menarik,” balas Julia Roberts sedikit bergumam. “Tapi….aku tidak begitu nyaman dengan ruang publik yang terbuka ini.”

“Ayolah,” balas Catherine kembali. “Akan kutunjukkan padamu.” Dia memutar dan menunjukkan bokongnya pada Julia dengan melompat di kolam tersebut.
“Rasanya menyenangkan sekali…ayolah!”, ajaknya sedikit menghasut.

Julia mengigit bibirnya dan sedikit tercengang. “Apa2 an ini?” Ia kemudian melepaskan semua pakaiannya dan ikut berbikini.
Terlihat bagaimana bentuk seksi tubuh wanita itu walaupun sedikit kurus dibanding Catherine, tapi payudara dan bokongnya sangat indah..
cerita-dewasa-julia-roberts.jpg
“Ya tuhan,” Julia berteriak saat terjun kekolam dan membilas rambutnya. “Kau benar, Aku sangat membutuhkan ini.” sahutnya girang.

“Betulkan…?,” balas Catherine meyakinkan. “Setelah beberapa bulan yang melelahkan, kau pasti butuh ini.”

Merekapun asyik bermain di kolam tersebut sambil bersenda gurau.
Mereka bersandar dipinggir kolam dengan badan tertelungkup. Dan bercerita ttg segala sesuatu yang ringan sambil tertawa.

Tanpa mereka sadari, seorang bertubuh atletis juga sedang menuju kolam tersebut dan ingin masuk kekolam tersebut.
Ia memperhatikan kedua wanita tersebut, seakan mereka cuek dgn kondisi sekitarnya.
Namanya David.

David adalah plan manager hotel tersebut dan ingin melepas lelah sambil memeriksa hasil kreasi pada kolam VIP jacuzzi ini. Terutama pada pancaran gelembung air dari dasar kolam dan spotlight lampu diseputar kolam. Ia pun membuka pakaian kerjanya dan hanya mengunakan celana dalam. Tekanan gelombang didasar kolam tsb ia rasakan dengan kakiknya, dan berharap tingkat pressure gelembung tersebut tidak menganggu pengujung yang ingin bersantai.

Ia tersenyum dengan kreasi yang dibuatnya. Sepertinya kedua wanita tersebut menikmati dan menyukainya.
Sekarang ia memperhatikan lampu sorot yang berada dalam kolam. Dan kelihatannya cukup membuat suasan menjadi romantis dikeremangan malam.

Ia berhenti sejenak dengan pekerjaannya dan memandang kedua wanita tersebut. Ia coba memberanikan diri untuk berkenalan dan siapa yang ditujunya. Merekapun berkenalan.

Agaknya Dave sedikit fokus thd Julia.

“Dengar baik-baik, ladies,” kata David sedikit membuka percakapan santai.
“KAlian berdua pasti ingin merasakan yang lebih nikmat?, sangat2 nikmat? tanya Dave?”

“Yeah……” balas kedua wanita tersebut.
Sambil tersenyum David membuka celana dalamnya dan mengibas-ngibaskan diatas kepalanya.
Kedua wanita tsb terkejut tetapi girang. “Wooow…”kata Julia yang tertawa, sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. “Whatta…”, balas Chaterine tertawa.

Dave nekat dan maju kearah Julia. Ia menarik julia dan mencium tangannya, dan karena Julia seperti kegirangan dengan aksi Dave, ia mau saja ditarik Dave kedalam pelukannya, perlahan dan pasti Dave mencium bibir Julia. Spontan dan macho sekali!.

Julia merespon dengan perlahan, membiarkan lidahnya memasuki mulutnya sambil membiarkan pria tersebut mengendong dalam pangkuannya. Tepat diatas pahanya.
cerita-dewasa-julia-roberts2.jpg
Sepertinya pesta malam itu menjadi sedikit liar!
Julia malah merapatkan dirinya, dan berusaha mengarahkan vagina dan pantatnya pada penis pria perkasa tersebut. Ia pun ikut mengesek2 pantatnya pada pangkuan Dave sambil memandang Catherine. Chaterine hanya terbelalak sambil tersenyum.

Dave merasakan bahwa penisnya telah menyenggol bibir vagina Julia.
Karena ‘lampu hijau dalam alunan seks kolam’ sudah menyala, Dave pun mencari-cari sarang vagina Julia dan memberanikan diri untuk melakukan penetrasi pemanasan.
Ibarat gayung bersambut, aksi Dave mendapat tanggapan positive dari Julia. Ia pun merangkul erat pundak Dave. Amazing…..!

Aksi penetrasi Dave sepertinya sudah berjalan mulus, sehingga Dave berusaha melanjutkan untuk usaha yang ‘lebih dalam’ lagi.
Julia hanya tersenyum dan merapatkan tubuhnya pada sang pria sehingga memberi keleluasaan bagi Dave untuk menekan lebih keras lagi.

Julia collaps akibat adegan tersebut, Penis Dave telah menembus dalam vaginanya. Ia merintih nikmat.
Dave menyandarkan Julia pada bibir kolam sehingga tambah leluasa dalam ‘memompa’ vagina Julia dalam remangnya kolam.

David merasakan Catherine mendekati dan merasakan payudaranya menempel pada tubuh belakangnya. Sepertinya emosi birahinya mulai ‘mengamuk’.

Tanpa disangka, Chaterine menjadi histeris halus saat David merangkul pantatnya dan menusukkan jarinya pada lubang anus Chaterine.
Semua ini tidak menganggu konsentrasi DAve dalam mengenjot Julia.
Dave memang lihai dalam berhunbunga dengan setiap wanita dan pintar menarik perhatian setiap wanita yang digodanya.

“Kemarilah,” David memutarkan tubuh Catherine kesampingnya. “Julia, masukkan jarimu pada memek Catherine,” David memerintah kalem.

Tanpa mengurangi genjotannya terhadap memek Julia, Julia memindahkan tanganya dan mengarahkan jarinya ke memek Catherine.
Chaterine mengerang asyik sebagaimana Juliapun demikian akibat genjotan David yang keras.

Julia kemudian berbalik arah membelakangi Dave dan menginginkan Dave untuk memasukkan penisnya dalam lubang anusnya. Tentu saja Dave tidak menolak.
Julia sedikit meringis akibat kedatangan benda tumpul dalam anusnya, tapi Dave tidak perduli. Semakin Julia meringis, semakin keras Dave menembak anus Julia.

Tangan Dave tidak tinggal diam, sebagaimana ia memainkan clitoris Julia dan menusuk memeknya dengan jarinya. Ya….Dua lobang Julia kena sasaran tembak!

Akhirnya Julia merasakan saatnya untuk orgasme, “Ohhh…god…i’m comming!..” lengkingnya halus.
Chaterine menekan Julia agar jarinya tidak keluar dari memeknya.

Karena Julia telah selesai, Dave pun melepaskan penisnya dan berbalik arah ke Chaterine.
Ia menyuruh Chaterine bersandar di kolam dengan tangan melipat kebelakang diatas kolam.
Dave mengangkat kedua kaki Chaterine ke pundaknya.
Dan dari atas permukaan air terlihat jelas bagaimana memek Chaterine sedikit membuka siap menghadapi lawan tandingnya.

Perlahan Dave mengarahkan penisnya ke vagina Chaterine, dan blessss…. sekali hujaman keras yang dilakukan Dave, membuat badan belakang Chaterine membentur cukup kuat pada dinding kolam.
cerita-dewasa-chaterine-zeta-jones2.jpg
Ya…penis Dave telah menjebol memek Chaterine sangat dalam sekali dengan posisi demikian.
Kepala Chaterine sampai terdongak kebibir kolam, menahan serangan tiba2 dari Dave, tanpa ada penetrasi lebih dahulu. “Ouggghhh….do it again honey!”..pinta Chaterine.
cerita-dewasa-chaterine-zeta-jones4.jpg
David berusaha menunduk untuk melumat payudara Chaterine….dan setelah ia dapatkan, ia lumat habis kedua puting tersebut secara bergantian.”
Pantatnya berusaha memberikan goyangan terbaik pada memek Chaterine.

Puas dengan aksi tersebut, Dave menyuruh Julia untuk segera naik keatas kolam dan memintanya untuk mengangkangi kepala Julia.
Kemudian setelah Julia tepat berada diatas kepala Chaterine, Dave menyuru Julia jongkok dan menyuruh pula Chaterine untuk memainkan memek Julia dengan lidahnya. Sungguh pemandangan yang fantastis.

Dave tambah bersemangat menerjang memek Chaterine melihat pemandangan demikian.
Chaterine sering menjerit histeris akibat sentakan Dave.

Air dikolam tersebut, membuat lubang vagina Chaterine tidak lagi licin, malah tambah keset. Disinilah letak nikmatnya aksi seks kolam ini.

Tak puas dengan itu, Dave melepaskan penis dari memek Chaterine dan coba mengarahkannya pada bagian bawahnya. Ya…lobang anus Chaterine menjadi sasaran berikutnya!.

Ia mencari2 lobang tersebut dengan mengarahkan penisnya dibantu dengan tangan Chaterine.

Sepertinya Dave telah menemukan lubang anus tersebut. Dan kali ini….ia lakukan lagi tusukan secara keras dan mendadak.

Semua tanpa ada penetrasi lebih dahulu.!

Chaterine terbelalak hebat akibat aksi Dave ini. Dengan sedikit menahan paha Dave, Chaterine berusaha mengurangi tekanan paha Dave pada anusnya.

Tetapi DAve adalah type pria perkasa tanpa kompromi.
Sangahan tangan tersebut tidak bisa menahan terjangan berikutnya dari penis Dave.
Sehingga Chaterine terkadang lepas kontrol dari kulumannya terhadap memek Julia.

“Dave tolong kembali ke vaginaku”, pinta Chaterine. “Aku ingin keluar Dave…”, sambung Chaterine.

Davepun melepaskan penisnya dan kembali mengarahkan penisnya pada memek Chaterine.

Kali ini tangan DAve berusaha merangkul batas penyangga dinding pinggir kolam.
Dan kemudian ia melakukan genjotan pada memek Chaterine dengan keras dan cepat frekwensinya.

Gemercik air menambah seru adengan seks tersebut.
Dave memberi isyarat pada Chaterine bahwa ia akan segera keluar dan menanyakan Chaterine apakah ia juga telah siap.

“Lakukan Dave…i almost done…aku hampir selesai”, kata Chaterine.
cerita-dewasa-cathereine-zeta-jones5.jpg
Dan dirangkulnya keras tubuh Chaterine pertanda Dave sedang menyemprotkan sperma ke memek Chaterine, demikian pula Chaterine yang melepas kulumannya pada memek Julia untuk merangkul Dave karena ia pun sedang orgasme keras.

“Ohhhh yesss….yesss…yess….”, jerit Chaterine puas merasakan sperma Dave merasuk dalam vaginanya.

Merekapun saling berciuman bersama sebagai tanda puas.

“Ok…girls, anything you need more just ask”, kata Dave.

You can stay here for more 3 day with free, balas Dave yang memberikan nginap tambahan gratis selama 3 hari jika mereka masih ingin memperpanjang menginap di hotel ini.

Mereka tersenyum dan segera kembali kekamarnya masing2.

Aku sendiri seorang engineer biasa dari hotel tersebut hanya bisa melakukan masturbasi melihat keadaan tersebut.
Berbahagialah Dave yang memiliki kuasa, wajah yang tampan dan fisik yang menawan.

Artis kalau sudah demikian, tidak lagi memandang siapa yang diajak kencan.
Selagi mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan, siapapun itu mereka siap melakukan.
That’s why we loves america!

==========
Bonus film yang bisa didownload dan diputar “Sepong dan hisap pejuh”
Kalau ada masalah dalam menontonnya silahkan tanya pada komentar ini
Sepong dan hisap pejuh

Wanita Berkeringat

Jakarta yang panas membuatku kegerahan di atas angkot. Kantorku tidak lama lagi kelihatan di kelokan depan, kurang lebih 100 meter lagi. Tetapi aku masih betah di atas mobil ini. Angin menerobos dari jendela. Masih ada waktu bebas dua jam. Kerjaan hari ini sudah kugarap semalam. Daripada suntuk diam di rumah, tadi malam aku menyelesaikan kerjaan yang masih menumpuk. Kerjaan yang menumpuk sama merangsangnya dengan seorang wanita dewasa yang keringatan di lehernya, yang aroma tubuhnya tercium. Aroma asli seorang wanita. Baunya memang agak lain, tetapi mampu membuat seorang bujang menerawang hingga jauh ke alam yang belum pernah ia rasakan.



"Dik.., jangan dibuka lebar. Saya bisa masuk angin." kata seorang wanita setengah baya di depanku pelan.


Aku tersentak. Masih melongo.


"Itu jendelanya dirapetin dikit..,
" katanya lagi.


"Ini..?" kataku.


"Ya itu."


Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih. Keringatnya meleleh seperti yang kulihat sekarang. Napasnya tersengal. Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi, setelah mengejar angkot ini sekadar untuk dapat secuil tempat duduk.



"Terima kasih,
" ujarnya ringan.


Aku sebetulnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkan lagi,
sehingga tidak perlu curi-curi pandang melirik lehernya, dadanya yang terbuka cukup lebar sehingga terlihat garis bukitnya.



"Saya juga tidak suka angin kencang-kencang. Tapi saya gerah." meloncat begitu saja kata-kata itu.


Aku belum pernah berani bicara begini,
di angkot dengan seorang wanita, separuh baya lagi. Kalau kini aku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku terlalu terbuai lamunan. Ia malah melengos. Sial. Lalu asyik membuka tabloid. Sial. Aku tidak dapat lagi memandanginya.



Kantorku sudah terlewat. Aku masih di atas angkot. Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku. Masih menutupi diri dengan tabloid. Tidak lama wanita itu mengetuk langit-
langit mobil. Sopir menepikan kendaraan persis di depan sebuah salon. Aku perhatikan ia sejak bangkit hingga turun. Mobil bergerak pelan,
aku masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana arah wanita yang berkeringat di lehernya itu. Ia tersenyum. Menantang dengan mata genit sambil mendekati pintu salon. Ia kerja di sana? Atau mau gunting? Creambath? Atau apalah? Matanya dikerlingkan, bersamaan masuknya mobil lain di belakang angkot. Sial. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.



"Bang, Bang kiri Bang..!"


Semua penumpang menoleh ke arahku. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka?


"Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek," sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.


Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Satu dua, satu dua. Yes.., akhirnya. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Apa katanya nanti? Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Mendadak jari tanganku dingin semua. Wajahku merah padam. Lho, salon kan tempat umum. Semua orang bebas masuk asal punya uang. Bodoh amat. Come on lets go! Langkahku semangat lagi. Pintu salon kubuka.



"Selamat siang Mas," kata seorang penjaga salon, "Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?"


"Massage, boleh." ujarku sekenanya.


Aku dibimbing ke sebuah ruangan. Ada sekat-sekat, tidak tertutup sepenuhnya. Tetapi sejak tadi aku tidak melihat wanita yang lehernya berkeringat yang tadi mengerlingkan mata ke arahku. Ke mana ia? Atau jangan-jangan ia tidak masuk ke salon ini, hanya pura-pura masuk. Ah. Shit! Aku tertipu. Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke 'alam' lain.



Dulu aku paling anti masuk salon. Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Ah.., wanita yang lehernya berkeringat itu begitu besar mengubah keberanianku.


"Buka bajunya, celananya juga,"
ujar wanita tadi manja menggoda, "Nih pake celana ini..!"


Aku disodorkan celana pantai tapi lebih pendek lagi. Bahannya tipis, tapi baunya harum. Garis setrikaannya masih terlihat. Aku menurut saja. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Ada dipan kecil panjangnya dua meter,
lebarnya hanya muat tubuhku dan lebih sedikit. Wanita muda itu sudah keluar sejak melempar celana pijit. Aku tiduran sambil baca majalah yang tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu. Sekenanya saja kubuka halaman majalah.



"Tunggu ya..!" ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi ke balik ruangan ke meja depan ketika ia menerima kedatanganku.


"Mbak Wien.., udah ada pasien tuh,
" ujarnya dari ruang sebelah. Aku jelas mendengarnya dari sini.


Kembali ruangan sepi. Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langit-
langit ruangan.



Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok. Makin lama makin jelas. Dadaku mulai berdegup lagi. Wajahku mulai panas. Jari tangan mulai dingin. Aku makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.


"Halo..!" suara itu mengagetkanku. Hah..? Suara itu lagi. Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta aku menutup kaca angkot. Dadaku berguncang. Haruskah kujawab sapaan itu? Oh.., aku hanya dapat menunduk, melihat kakinya yang bergerak ke sana ke mari di ruangan sempit itu. Betisnya mulus ditumbuhi bulu- bulu halus. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Hitam. Aku tidak ingat motifnya, hanya ingat warnanya.



"Mau dipijat atau mau baca," ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku, "Ayo tengkurep..!"


Tangannya mulai mengoleskan cream ke atas punggungku. Aku tersetrum. Tangannya halus. Dingin. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung. Lalu pijitan turun ke bawah. Ia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh. Ia menekan-nekan agak kuat. Aku meringis menahan sensasasi yang waow..! Kini ia pindah ke paha, agak berani ia masuk sedikit ke selangkangan. Aku meringis merasai sentuhan kulit jarinya. Tapi belum begitu lama ia pindah ke betis.



"Balik badannya..!" pintanya.


Aku membalikkan badanku. Lalu ia mengolesi dadaku dengan cream. Pijitan turun ke perut. Aku tidak berani menatap wajahnya. Aku memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Ia tidak bercerita apa-apa. Aku pun segan memulai cerita. Dipijat seperti ini lebih nikmat diam meresapi remasan, sentuhan kulitnya. Bagiku itu sudah jauh lebih nikmat daripada bercerita. Dari perut turun ke paha. Ah.., selangkanganku disentuh lagi, diremas, lalu ia menjamah betisku, dan selesai.



Ia berlalu ke ruangan sebelah setelah membereskan cream. Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat. Kuusap sisa cream. Dan kubuka celana pantai. Astaga. Ada cairan putih di celana dalamku.



Di kantor, aku masih terbayang-bayang wanita yang di lehernya ada keringat. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Aku tidak tahan. Esoknya, dari rumah kuitung-itung waktu. Agar kejadian kemarin terulang. Jam berapa aku berangkat. Jam berapa harus sampai di Ciledug, jam berapa harus naik angkot yang penuh gelora itu. Ah sial. Aku terlambat setengah jam. Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernya ada keringat sudah terbayang. Ini gara-gara ibuku menyuruh pergi ke rumah Tante Wanti. Bayar arisan. Tidak apalah hari ini tidak ketemu. Toh masih ada hari esok.



Aku bergegas naik angkot yang melintas. Toh, si setengah baya itu pasti sudah lebih dulu tiba di salonnya. Aku duduk di belakang, tempat favorit. Jendela kubuka. Mobil melaju. Angin menerobos kencang hingga seseorang yang membaca tabloid menutupi wajahnya terganggu.


"Mas Tut.."
hah..? suara itu lagi, suara wanita setengah baya yang kali ini karena mendung tidak lagi ada keringat di lehernya. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.


Aku tersenyum. Ia tidak membalas tapi lebih ramah. Tidak pasang wajah perangnya.



"Kayak kemarinlah..," ujarnya sambil mengangkat tabloid menutupi wajahnya.


Begitu kebetulankah ini? Keberuntungankah? Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Aku menyesal mengutuk ibu ketika pergi. Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.



"Mbak Wien..,
" gumamku dalam hati.


Perlu tidak ya kutegur? Lalu ngomong apa? Lha wong Mbak Wien menutupi wajahnya begitu. Itu artinya ia tidak mau diganggu. Mbak Wien sudah turun. Aku masih termangu. Turun tidak, turun tidak, aku hitung kancing. Dari atas: Turun. Ke bawah: Tidak. Ke bawah lagi: Turun. Ke bawah lagi: Tidak. Ke bawah lagi: Turun. Ke bawah lagi: Tidak. Ke bawah lagi: Hah habis kancingku habis. Mengapa kancing baju cuma tujuh?



Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagian lengan, kalau belum cukup kancing Bapak-
bapak di sebelahku juga bisa. Begini saja daripada repot-repot. Anggap saja tiap-
tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aku turun. Tapi eh.., seorang penumpang pakai kaos oblong, mati aku. Ah masa bodo. Pokoknya turun.



"Kiri Bang..!"


Aku lalu menuju salon. Alamak.., jauhnya. Aku lupa kelamaan menghitung kancing. Ya tidak apa-apa, hitung-hitung olahraga. Hap. Hap.



"Mau pijit lagi..?" ujar suara wanita muda yang kemarin menuntunku menuju ruang pijat.


"Ya."


Lalu aku menuju ruang yang kemarin. Sekarang sudah lebih lancar. Aku tahu di mana ruangannya. Tidak perlu diantar. Wanita muda itu mengikuti di belakang. Kemudian menyerahkan celana pantai.



"Mbak Wien, pasien menunggu,
" katanya.


Majalah lagi, ah tidak aku harus bicara padanya. Bicara apa? Ah apa saja. Masak tidak ada yang bisa dibicarakan. Suara pletak-pletok mendekat.


"Ayo tengkurap..!" kata wanita setengah baya itu.


Aku tengkurap. Ia memulai pijitan. Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar- benar pegal, sehingga terbuai pijitannya.



"
Telentang..!" katanya.


Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya. Paling tidak aku dapat melihat leher yang basah keringat karena kepayahan memijat. Ia cukup lama bermain-main di perut. Sesekali tangannya nakal menelusup ke bagian tepi celana dalam. Tapi belum tersentuh kepala juniorku. Sekali. Kedua kali ia memasukkan jari tangannya. Ia menyenggol kepala juniorku. Ia masih dingin tanpa ekspresi. Lalu pindah ke pangkal paha. Ah mengapa begitu cepat.



Jarinya mengelus tiap mili pahaku. Si Junior sudah mengeras. Betul-betul keras. Aku masih penasaran, ia seperti tanpa ekspresi. Tetapi eh.., diam-
diam ia mencuri pandang ke arah juniorku. Lama sekali ia memijati pangkal pahaku. Seakan sengaja memainkan Si Junior. Ketika Si Junior melemah ia seperti tahu bagaimana menghidupkannya, memijat tepat di bagian pangkal paha. Lalu ia memijat lutut. Si Junior melemah. Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. Ah sialan. Aku dipermainkan seperti anak bayi.



Selesai dipijat ia tidak meninggalkan aku. Tapi mengelap dengan handuk hangat sisa-
sisa cream pijit yang masih menempel di tubuhku. Aku duduk di tepi dipan. Ia membersihkan punggungku dengan handuk hangat. Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat. Bau tubuhnya tercium. Bau tubuh wanita setengah baya yang yang meleleh oleh keringat. Aku pertegas bahwa aku mengendus kuat-
kuat aroma itu. Ia tersenyum ramah. Eh bisa juga wanita setengah baya ini ramah kepadaku.



Lalu ia membersihkan pahaku sebelah kiri, ke pangkal paha. Junior berdenyut- denyut. Sengaja kuperlihatkan agar ia dapat melihatnya. Di balik kain tipis, celana pantai ini ia sebetulnya bisa melihat arah turun naik Si Junior. Kini pindah ke paha sebelah kanan. Ia tepat berada di tengah-tengah. Aku tidak menjepit tubuhnya. Tapi kakiku saja yang seperti memagari tubuhnya. Aku membayangkan dapat menjepitnya di sini. Tetapi, bayangan itu terganggu. Terganggu wanita muda yang di ruang sebelah yang kadang-
kadang tanpa tujuan jelas bolak-balik ke ruang pijat.



Dari jarak yang begitu dekat ini, aku jelas melihat wajahnya. Tidak terlalu ayu. Hidungnya tidak mancung tetapi juga tidak pesek. Bibirnya sedang tidak terlalu sensual. Nafasnya tercium hidungku. Ah segar. Payudara itu dari jarak yang cukup dekat jelas membayang. Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Ia terus mengelap pahaku. Dari jarak yang dekat ini hawa panas tubuhnya terasa. Tapi ia dingin sekali. Membuatku tidak berani. Ciut. Si Junior tiba-tiba juga ikut-ikutan ciut. Tetapi, aku harus berani. Toh ia sudah seperti pasrah berada di dekapan kakiku.



Aku harus, harus, harus..! Apakah perlu menhitung kancing. Aku tidak berpakaian kini. Lagi pula percuma, tadi saja di angkot aku kalah lawan kancing. Aku harus memulai. Lihatlah, masak ia begitu berani tadi menyentuh kepala Junior saat memijat perut. Ah, kini ia malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku. Ia berlutut mengelap paha bagian belakang. Kaki kusandarkan di tembok yang membuat ia bebas berlama-
lama membersihkan bagian belakang pahaku. Mulutnya persis di depan Junior hanya beberapa jari. Inilah kesempatan itu. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Ayo. Tunggu apa lagi. Ayo cepat ia hampir selesai membersihkan belakang paha. Ayo..!



Aku masih diam saja. Sampai ia selesai mengelap bagian belakang pahaku dan berdiri. Ah bodoh. Benarkan kesempatan itu lewat. Ia sudah membereskan peralatan pijat. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas. Betulkan, ia tidak akan datang begitu saja. Badannya berbalik lalu melangkah. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Makin lama suara sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara itu hilang.



Aku hanya mendengus. Membuang napas. Sudahlah. Masih ada esok. Tetapi tidak lama, suara pletak-pletok terdengar semakin nyaring. Dari iramanya bukan sedang berjalan. Tetapi berlari. Bodoh, bodoh, bodoh. Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Aku masih mematung. Duduk di tepi dipan. Kaki disandarkan di dinding. Ia tersenyum melihatku.



"Maaf Mas, sapu tangan saya ketinggalan," katanya.


Ia mencari-cari. Di mana? Aku masih mematung. Kulihat di bawahku ada kain, ya seperti saputangan.


"Itu kali Mbak,
" kataku datar dan tanpa tekanan.


Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika ia membersihkan paha bagian bawah. Ini kesempatan kedua. Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Lihatlah ia tadi begitu teliti membenahi semua perlatannya. Apalagi yang dapat tertinggal? Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan. Ya, seseorang toh dapat saja lupa pada sesuatu, juga pada sapu tangan. Karena itulah, tidak akan hadir kesempatan ketiga. Ayo..!



"Mbak.., pahaku masih sakit nih..!" kataku memelas, ya sebagai alasan juga mengapa aku masih bertahan duduk di tepi dipan.


Ia berjongkok mengambil sapu tangan. Lalu memegang pahaku,
"Yang mana..?"


Yes..! Aku berhasil. "Ini..," kutunjuk pangkal pahaku.


"Besok saja Sayang..!" ujarnya.


Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Tapi ia masih berjongkok di bawahku.


"Yang ini atau yang itu..?" katanya menggoda, menunjuk Juniorku.



Darahku mendesir. Juniorku tegang seperti mainan anak-
anak yang dituip melembung. Keras sekali.


"Jangan cuma ditunjuk dong, dipegang boleh."


Ia berdiri. Lalu menyentuh Junior dengan sisi luar jari tangannya. Yes. Aku bisa dapatkan ia,
wanita setengah baya yang meleleh keringatnya di angkot karena kepanasan. Ia menyentuhnya. Kali ini dengan telapak tangan. Tapi masih terhalang kain celana. Hangatnya, biar begitu, tetap terasa. Aku menggelepar.



"Sst..! Jangan di sini..!" katanya.


Kini ia tidak malu-
malu lagi menyelinapkan jemarinya ke dalam celana dalamku. Lalu dikocok-kocok sebentar. Aku memegang teteknya. Bibirku melumat bibirnya.


"Jangan di sini Sayang..!" katanya manja lalu melepaskan sergapanku.


"Masih sepi ini..!" kataku makin berani.


Kemudian aku merangkulnya lagi, menyiuminya lagi. Ia menikmati, tangannya mengocok Junior.



"Besar ya..?" ujarnya.


Aku makin bersemangat, makin membara, makin terbakar. Wanita setengah baya itu merenggangkan bibirnya, ia terengah-engah, ia menikmati dengan mata terpejam.


"Mbak Wien telepon..," suara wanita muda dari ruang sebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.


Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon.


"Ngapaian sih di situ..?" katanya lagi seperti iri pada Wien.



Aku mengambil pakaianku. Baru saja aku memasang ikat pinggang, Wien menghampiriku sambil berkata, "
Telepon aku ya..!"


Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya. Pasti terburu-buru. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor- nomornya. Nampak ada perubahan besar pada Wien. Ia tidak lagi dingin dan ketus. Kalau saja, tidak keburu wanita yang menjaga telepon datang, ia sudah melumat Si Junior. Lihat saja ia sudah separuh berlutut mengarah pada Junior. Untung ada tissue yang tercecer, sehingga ada alasan buat Wien.



Ia mengambil tissue itu, sambil mendengar kabar gembira dari wanita yang menunggu telepon. Ia hanya menampakkan diri separuh badan.


"Mbak Wien.., aku mau makan dulu. Jagain sebentar ya..!"


Ya itulah kabar gembira, karena Wien lalu mengangguk.



Setelah mengunci salon, Wien kembali ke tempatku. Hari itu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belum ada yang datang, baru aku saja. Aku menanti dengan debaran jantung yang membuncah-buncah. Wien datang. Kami seperti tidak ingin membuang waktu,
melepas pakaian masing-masing lalu memulai pergumulan.



Wien menjilatiku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku menikmati kelincahan lidah wanita setengah baya yang tahu di mana titik-titik yang harus dituju. Aku terpejam menahan air mani yang sudah di ujung. Bergantian Wien kini telentang.



"Pijit saya Mas..!" katanya melenguh.


Kujilati payudaranya,
ia melenguh. Lalu vaginanya, basah sekali. Ia membuncah ketika aku melumat klitorisnya. Lalu mengangkang.


"Aku sudah tak tahan, ayo dong..!" ujarnya merajuk.


Saat kusorongkan Junior menuju vaginanya, ia melenguh lagi.


"Ah... Sudah tiga tahun, benda ini tak kurasakan Sayang. Aku hanya main dengan tangan. Kadang-kadang ketimun. Jangan dimasukkan dulu Sayang, aku belum siap. Ya sekarang..!" pintanya penuh manja.



Tetapi mendadak bunyi telepon di ruang depan berdering. Kring..! Aku mengurungkan niatku. Kring..!


"Mbak Wien, telepon." kataku.


Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Aku mengikutinya. Sambil menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya.


"Ya sekarang Sayang..!" katanya.



"Halo..?" katanya sedikit terengah.


"Oh ya. Ya nggak apa-apa,
" katanya menjawab telepon.


"Siapa Mbak..?" kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya.


"Si Nina, yang tadi. Dia mau pulang dulu ngeliat orang tuanya sakit katanya sih begitu," kata Wien.



Setelah beberapa lama menyodoknya, "Terus dong Yang. Auhh aku mau keluar ah.., Yang tolloong..!" dia mendesah keras.


Lalu ia bangkit dan pergi secepatnya.


"Yang.., cepat-
cepat berkemas. Sebantar lagi Mbak Mona yang punya salon ini datang, biasanya jam segini dia datang."


Aku langsung beres-beres dan pulang.

Simak juga perjuangan gadis desa menjadi MILYADER hanya dengan menjual sesuatu dari dalam dirinya di BAWAH 50 TAHUN

Gara-Gara Harnet

Setelah sekian lama, mengikuti cerita di situ 17tahun.com, ingin juga rasanya aku menuangkan cerita yang pernah kualami beberapa puluh tahun yang lalu. Peristiwa itu, sampai kini selalu teringat karena senantiasa membangkitkan gairah seksku yang sulit terbendung, terutama ketika melihat wanita yang memiliki "type" seperti Bulik Anna.



Aku, sebut saja Anto,
sulung dari tiga bersaudara dan dibesarkan dalam keluarga dimana ayahku begitu disiplin mendidik kami dalam masalah tatakrama ketimuran, jadi jangankan berkata jorok, berbicara yang kurang sopan saja sudah didampratnya. Karena itu ketika aku menjelang remaja,
tepatnya ketika aku berusia 15 tahun, dorongan masa puberku sering kulampiaskan dengan membaca cerita porno,
tentu saja dengan main 'kucing-
kucingan' agar tidak ketahuan oleh ayahku. Kemudian menjelang tidur aku sering membayangkan kembali cerita-cerita tersebut sambil mengelus-elus penisku sampai terkadang mencapai orgasme. Dalam membayangkan, disana belum terlintas tipe wanita seperti apa, pokoknya aku hanya membayangkan sedang bercinta dengan lawan jenis dan kulakukannya seperti dalam cerita yang kubaca.



Suatu saat di rumah kami kedatangan tamu,
teman ibuku semasa dia kecil dulu. Namanya Rohana dan ibu memperkenalkan kepada kami anak-
anaknya sebagai Bulik Anna. Usianya tidak terpaut jauh dengan usia Ibuku yang ketika itu berusia 36 tahun. Dalam berpakaian, Bulik Anna selalu nampak rapi dengan khas Jawanya. Rambutnya yang panjang lebat senantiasa digelung, body-nya padat dengan kulitnya yang mulus. Menurut cerita ibu, ia dulu bekas penari dan rencananya akan tinggal di rumah kami cukup lama sambil mengurus usahanya di kota Jakarta.



Awal-awal Bulik Anna berada di rumah kami,
nampak biasa-biasa saja, hanya aku, disela-sela kesempatan sering mencuri pandang, apalagi jika dia sedang memakai daster dan buah dadanya yang besar tampak menyembul. Wah, betapa nikmatnya kalau dapat kuremas-remas. Otakku terkadang menjadi ngeres dan sering tubuh Bulik Anna yang padat berisi kumasukkan dalam lamunan seksku. Namun tentunya aku tidak berani berbuat jauh dari itu, apalagi perangai Bulik Anna sangat sopan terhadap kami-
kami ini, sehingga betapapun perasaan ini bergemuruh, senantiasa kusimpan dalam-dalam ketika berbicara dengannya.



Hingga pada suatu hari, kelasku diliburkan karena gurunya akan mengadakan rapat persiapan ujian. Karena libur, hari itu aku bangun agak siang. Ketika aku akan ke kamar mandi di ruang tengah, tampak Bulik Anna sedang asyik membaca majalah.



"Selamat pagi Bulik..!" sapaku.


"O.., Selamat pagi To, koq ngga sekolah..?" jawab Bulik Anna dengan suara merdunya.


Sambil kuhentikan langkahku sejenak, aku bertanya lagi, "Koq sepi ya, yang lain pada kemana?"


"Ibumu tadi pamit untuk mengikuti kegiatan PKK, katanya akan ada basar sampai sore, makanya Bi Sumi (pembantu) juga diajak tuh..!"


"O.. begitu, Bulik sendiri tidak pergi?" tanyaku lagi.


"Nanti.. kira-kira jam sembilan memang saya ada janji, sekarang kan baru jam delapan,
sekarang kamu mandi dulu deh, nanti kita sarapan sama-
sama."



Setelah mandi aku tetap berpakaian rumah, karena memang aku tidak ada rencana kemana-
kemana, sementara tampaknya Bulik Anna kembali ke kamarnya untuk berdandan sebelum kami sarapan.Tapi tiba-
tiba Bulik Anna memanggilku, "
To, Anto... coba kesini sebentar..!"


"Ya Bulik..,
" aku langsung menuju ke kamarnya, "Ada apa Bulik..?" tanyaku.


"Ini lho rambut Bulik, sulit dibuka sanggulnya, mungkin harnetnya (jaring pembungkul sanggul)tersangkut sama jepitannya, tolong dong bantu lepaskan..!"


Aku dengan sigap segera membantu Bulik membongkar sanggulnya.



Setelah agak lama kuusut jepitan dan harnet yang tersangkut, akhirnya sanggul Bulik Anna dapat terbuka dan seketika rambut Bulik Anna yang lebat dan wanggi tergerai, membuat perasaan berdesir terkena serbakan rambutnya. Aku tidak segera melepaskan tanganku di rambut tersebut, malah jari-jariku kugunakan sebagai pengganti sisir untuk meluruskan rambutnya yang kusut. Bulik Anna tidak berkata apa-apa, hanya terkadang kepalanya digerak-
gerakkan, sehingga aku makin leluasa mempermainkan rambutnya.



Sambil memainkan rambutnya, khayalan seksku makin menjadi-
jadi, apalagi setelah menyibak rambut Bulik Anna, terlihat tengkuknya yang putih mulus.


Sampai tiba-tiba lamunanku terhentak oleh suara Bulik Anna, "Kenapa To, kamu senang ya dengan rambut Bulik..?"


Aku sempat gugup, "Oo.. eh.. iya, rambut Bulik bagus sekali." jawabku sekenanya.


"Ah kamu bisa aja, dulu rambut Bulik lebih panjang lagi dan sering dibuat ekor kuda."


"Saya mau koq diajarin bikin rambut ekor kuda." jawabku karena dalam hati agar aku dapat lebih lama lagi bermain dengan rambut Bulik Anna.



Tanpa menjawab, Bulik Anna langung mempraktekkan. Dia membagi dua rambutnya, tangganku mengikuti gerakannnya. Belahan rambut yang satu tetap di belakang, sementara belahan yang satunya dipindahkan ke depan. Tanganku tetap dibimbingnya, sehingga ketika meletakkan belahan rambut yang depan, tubuhku tambah merapat ke tubuh Bulik Anna. Sementara tanganku sempat menyentuh payudara Bulik Anna yang hanya terlapisi dasternya. Tegangan semakin tinggi, dan senggaja tubuhku semakin kurapatkan ke tubuhnya, sehingga penisku yang sejak tadi sudah bangun di balik celana kugesek-
gesekkan ke pantatnya. Bulik Anna tampaknya juga menangkap usahaku, tapi dia pura-pura tidak memperdulikan, malah kini tanganku yang masih memegang belahkan rambutnya di belakang dipindah ke depan dua-duanya, sehingga posisinya seperti dia akan menggendongku.



Melihat gelagat seperti itu, kedua tanganku yang tadinya menggengam rambut kulepaskan, namun kuremas-remas rambut tersebut di atas kedua payudaranya, sementara wajahku kutempelkan ke tengkuknya yang putih mulus. Nafasku semakin tidak beraturan, sementara Bulik Anna membalas. Tangan sudah bereaksi melorotkan celana pendek dan CD-
ku sambil menyambar penisku yang sudah tegang. Kedua belahan rambutnya kini kususupkan ke dalam dasternya yang ternyata dia tidak memakai BH, sehingga langsung bersentuhan dengan kedua payudara Bulik, dan tanganku semakin leluasa meremas-
meremas rambut dan payudara sekaligus sambil tengkuknya kuciumi.



Bulik Anna yang sudah mulai terangsang, tanpa berkata-kata langsung membalikkan badan. Penisku yang dari tadi dipegangnya langsung dikocok-
kocok dengan lembut, kemudian dia berjongkok menjilatinya. Sementara itu tangganku tetap mempermainkan rambutnya yang lebat tergerai.


"Auh.. uh..!" rintihku menahan kenikmatan, sementara Bulik sibut dengan aktivitasnya.


Pennisku dikulum-
kulum bak "
lolypop", "
Ah.. auh.. Bulik.., Aku sudah ngga tahan nih..!"


Dia tidak menjawab, malah semakin keras menyedot penisku. Tubuhku semakin mengejang dan tanpa dapat kubendung lagi,
muncratlah cairan putih kental ke mulutnya sambil tanganku tetap menjambak rambutnya yang sudah tergerai tidak beraturan.



Betapa rasanya di awang-awang, karena baru pertama kali kualami. Ia telan habis air maniku, sementara aku tetap berdiri kaku, ya nikmat, ya malu, ya bingung, ya takut.


Bulik Anna berdiri, dia tersenyum melihat tingkahku yang salah tingkah.


"Tidak usah takut To.. Khan cuma Bulik yang tahu.., gimana rasanya?"


"Wah, luar biasa Bulik, tapi saya takut nih..!" jawabku dengan perasaan yang belum tenang.


"Sudahlah.., Bulik maklum koq, kamu tenangkan dulu pikiranmu, nanti Bulik ajarkan pelajaran kedua yang jauh lebih enak."


Kemudian ia menciumku dengan lembut, lalu membimbingku duduk di tepi ranjangnya. Kami berpelukan. Bulik kembali menciumku, kemudian melumat bibirku, sementara tangannya kembali mengelus-
elus penisku yang masih 'mengkeret' ketakutan.



Tapi kali ini aku sudah mulai berani. Kini sambil berciuman, tanganku sudah merambah ke tali daster batiknya,
kulepas ikatan daster Bulik sehingga melorot ke bawah, kupermainkan lagi rambut dan payudaranya. Bulik Anna melepas ciuman di bibirku, namun ia menekan kepalaku ke bawah dan mengarahkan ke payudaranya. Aku mulai menjilati putingnya yang menyembul di sela-
sela rambutnya. Puas berputar di sekitar payudara dengan tetap membekap kepalaku, Bulik mencoba berdiri, sehingga posisi wajahku persis berhadapan dengan vaginanya yang tersamar rambut tipis. Semerbak wangi vagina Bulik kembali membuatku terangsang,
kujilati semua permukaan vagina yang sudah mulai basah.



Kemudian dia merebahkan diri di ranjang, tangannya mendekap kepalaku. Pahanya dibuka, sehingga memudahkan aku menjilat dan memasukkan lidahku ke dalam vaginanya. Tubuh Bulik Anna bergerak-berak sambil sesekali merintih. Aku yang belum mengerti tehnik bercinta, terus saja melumat vaginanya sekenaku, sehingga tubuh Bulik semakin mengejang.


"Ayo.. To..! Teruskan.., teruskan..!" pintanya diikuti desah nafasnya.



Setelah hampir lima menit kusapu vaginanya dengan lidahku, aku berusaha melepaskan dekapan di kepalaku. Bulik tampak kaget, tapi segera kulepaskan daster Bulik yang belum sepenuhnya tanggal dari tubuhnya, dan ia pun segera melepas kaos yang kukenakan, sehingga kami berdua benar-
benar dalam keadaan telanjang. Kuelus lagi vagina Bulik yang tampak basah dan memerah, penisku juga diraihnya, lalu dibimbing masuk ke lubang tersebut.


"Sleb... sleb...!" kuputar-putar di dalam, mengikuti goyangan pantat Bulik.


Sambil kupompa, bibir kami terus bertautan dan tanganku meremas-
meremas payudaranya yang masih tertutup rambutnya.



Aduh ..to, terus.. pompa terus to, sambil tangan Bulik meremas pantatku. Penisku rasanya semakin mengeras, sementara vaginanya terasa berdenyut...mungkin lebih dari sepuluh menit kami berpautan.. oh..to...oh...enak..
to..., aduh aku ngga tahan nih..biarkan disitu, rintih Bulik anna..., Akupun semakin menekan penisku...sampai tubuh kami mengejang dan.. menyemburlah airmaniku untuk kedua kalinya dilobang milik Bulik anna yang satu ini.Kami menikmati puncak orgasme sampai benar-benar habis, dan baru kucabut penisku setelah kami berdua kelelahan. Aku turun ke sebelah tubuh Bulik Anna dan berbaring di sebelahnya.


Kemudian Bulik Anna memelukku sambil berkata, "
Terima kasih ya.. To, ternyata kamu 'murid' yang pandai yach..!"


"Tapi kalau ketahuan Ibu gimana nih..?"


"Ala.., ngga usah kuatir, Bulik akan jaga penampilan di depan Bapak Ibumu seperti biasanya."


"Lalu Bulik ngga jadi pergi..? Sudah jam setengah sepuluh lho..!" kataku mengingatkan.


"Ah... biar saja, lebih baik aku menemani kamu belajar hari ini..!" katanya sambil mencubit pipiku.



Setelah beristirahat kira-kira sepuluh menit, lalu 'pelajaran' pun dilanjutkan, sampai- sampai kami lupa bahwa gara-gara harnet jadi tidak ingat sarapan. Dan pada hari- hari selanjutnya, setiap ada kesempatan, kami mengulangi pelajaran tersebut, sampai akhirnya Bulik Anna pamit kembali ke desanya.



Itulah pengalamanku ngeseks pertama kali. Dan sampai kini, meskipun usiaku sudah lebih dari 40, namun jika melihat wanita berambut panjang dan lebat, gairah seksku langsung meningkat, teringat pengalaman dengan Bulik Anna.